PARAGRAF EKSPOSISI

KATA PENGANTAR

Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah .
Sebagai ilmu yang mempelajari tentang alat interaksional dan transaksional, bahasa indonesia  memegang peran penting dalam membantu mengetahui metode metode dalam pelaksanaan  intraksional dan transaksional. Dalam makalah ini tidak terlalu menyingung kedua hal tersebut . namun materi ini membahas tentang macam macam jenis paragraf  dan lebih kusus membahas tentang paragraf eksposisi.
 Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing kita  ibu  Retno  Susanti yang telah membimbing kita dalam pembuatan tugas makalah ini hingga bisa tersusun dengan rapi dan sesuai standar  pembuatan makalah.
Harapan kami dengan tersusunya makalah ini akan semakin banyak pembaca yang menjadikan makalah ini sebagai salah satu refrensi untuk mempelajari dan memahani macam macam paragraph.
Tak ada  gading yang tak retak, Kita sadar sebagi mahasiswa baru tentunya kita masih banyak kekurangan untuk menuntaskan masalah secra sendirian. Dan bila mana terdapat kesalahan kami mohon saran dari pembaca.
Penyusun
DAFTAR ISI
1.      Kata Pengantar………………………………………………………………………… 1
2.      Daftar Isi………………………………………………………………………………..2
3.      Bab I
Pendahuluan…………………………………………………………………………….3
4.      Bab I
Pembahsan………..………………………………………………………………….….4
5.      Bab II
Penutup …………………………………………………………………………………….7
Simpulan……………………………………………………………………………………7
Saran………………………………………………………………….…………………….7
6.      daftar Pustaka ………………………………………………………………………….8
BAB I
PENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang
Susdah saatnya  kita kembali pada pemikiran bahwa proses belajar harus berlangsung lebih sesderhana dan terbuka, meningalkan ketergantungan pengarahan pada penilaian dan kecangungan berpendapat kepada seorang guru pembimbing.
Untuk pertama kalinya di smester kedua program studi Bimbingan Konseling Islam mempunyai tanggung jawab untuk membahas “Paragraf eksposisi” dalam pembahasan ini kami sudah berupaya penuh dan sunguh sunguh untuk memberikan yang terbaik. Apabila dalam pembahsan di temukan hal yang kurang valid maka selayaknya di lakukan kajian ulang.
II.                 Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud  paragraf  eksposisi?
b.      Ada berapa macam pengembangan paragraf eksposisi?
c.       Bagaimana cara penyusunan paragraf eksposisi?
d.      Apa contoh contoh paragraf eksposisi?
III.                Tujuan
a.       Mengetahui pengertian paragraph weksdposdisdi
b.      Dapat menyebutkan macam  macam pengembangan paragraf eksposisi
c.       Mengetahui cara penyusunan paragraf eksposisi
d.      Mengetahui  contoh  paragraf eksposisi
BAB II
PARAGRAF EKSPOSISI
Menulis eksposisi sangat menarik, karena berisi informasi. Pembaca atau pendengar (bila kita menceritakannya) menyadari pentingnya sebuah informasi.
Paragraf eksposisi dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti; apakah itu? Dari mana asalnya?
Eksposisi adalah karangan yang menyajikan sejumlah pengetahuan atau informasi. Tujuannya, pembaca mendapat pengetahuan atau informasi yang sejelas – jelasnya.
Contoh yang termasuk dalam paragraf eksposisi adalah segala jenis laporan
Ada beberapa jenis pengembangan dalam paragraf eksposisi;
  1. eksposisi definisi
  2. eksposisi proses
  3. eksposisi klasifikasi
  4. eksposisi ilustrasi (contoh)
  5. eksposisi perbandingan & pertentangan, dan
  6. eksposisi laporan

WWW.budifilo.wordpress.com

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEJARAH PEMIKIRAN MOHAMAD ABDUH

Sejarah dan Pemikiran Muhammad Abduh

Muhammad bin Abduh bin Hasan dilahirkan di desa Mahallat Nashr, Al-Buhairoh, Mesir pada tahun 1849 M. Dia murid kesayangan Jamaluddin Al-Afghani. Dia wafat pada tahun 1905.
Aqal dan Wahyu
Menurut DR. M. Quraisy Syihab dalam Studi Kritis Tafsir Al-Manar terbitan Pustaka Hidayah tahun 1994 halaman 19, ada dua pemikiran pokok yang menjadi fokus utama pemikiran Muhammad Abduh, yaitu:
1. Membebaskan aqal fikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haqnya salaful ummah, yakni memahami langsung dari sumber pokoknya, Al-Qur’an dan Hadits. [Wajarlah jika para pengikutnya beranggapan bahwa setiap orang boleh berijtihad, admin]
2. Memperbaiki gaya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintahan maupun dalam tulisan-tulisan di media massa. [Hal ini juga merupakan salah satu point yang ditekankan Hasan Al-Banna yang merupakan salah satu pengagum Muhammad Abduh dan Al-Manarnya, admin.]
Dua persoalan pokok itu muncul ketika ia meratapi perkembangan ummat Islam pada masanya. Sebagaimana dijelaskan Sayyid Qutub, kondisi ummat Islam saat itu dapat digambarkan sebagai, “suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan aqal dalam memahami syari’at Allah atau mengistimbatkan hukum-hukum, karena mereka telah merasa cukup dengan hasil karya para pendahulunya yang juga hidup dalam masa kebekuan aqal (jumud), serta yang berdasarkan khurafat-khurafat.” [Sayyid Qutub, Khasha’ish At-Tashawwur Al-Islam, hal. 19]
Lihatlah bagaimana Sayyid Qutub menilai para ulama shalih. Lihatlah bagaimana dia mengedepankan aqal dan mengajak ummat pada umumnya untuk berijtihad. Padahal tidak semua orang punya kapasitas sebagai mujtahid. Bahkan tidak semua ulama dan santri mencapai derajat mujtahid. Pemikiran keliru yang mengajak ummat untuk berijtihad atas nama kebebasan berfikir ini telah diterima sebagian pemuda yang umumnya lemah aqal. Dan tentu saja pemikiran menyimpang seperti ini sangatlah berbahaya dan menyesatkan.
Atas dasar kedua fokus fikirannya itu, Muhammad Abduh memberikan peranan yang sangat besar kepada aqal. Begitu besarnya peranan yang diberikan olehnya sehingga Harun Nasution menyimpulkan bahwa Muhammad Abduh memberi kekuatan yang lebih tinggi kepada aqal daripada Mu’tazilah. [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 57]
Menurut Muhammad Abduh, aqal dapat mengetahui hal-hal berikut ini:
1. Tuhan dan sifat-sifat-Nya.
2. Keberadaan hidup di akhirat.
3. Kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada upaya mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedangkan kesengsaraannya bergantung pada sikap tidak mengenal Tuhan dan melakukan perbuatan jahat.
4. Kewajiban manusia mengenal Tuhan.
5. Kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiaan di akhirat.
6. Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.
Dengan memperhatikan pandangan Muhammad Abduh tentang peranan aqal di atas, dapat diketahui pula bagaimana fungsi wahyu baginya. Baginya, wahyu adalah penolong (al-mu’in). Kata ini ia pergunakan untuk menjelaskan fungsi wahyu bagi aqal manusia. Wahyu, katanya, menolong aqal untuk mengetahui sifat dan keadaan kehidupan alam akhirat; mengatur kehidupan masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya; menyempurnakan pengetahuan aqal tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya; dan mengetahui cara beribadah serta bersyukur kepada Tuhan. [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 58-61]
Dengan demikian, wahyu bagi Muhammad Abduh berfungsi sebagai konfirmasi, yaitu untuk menguatkan dan menyempurnakan pengetahuan aqal dan informasi. Lebih jauh, Muhammad Abduh memandang bahwa menggunakan aqal merupakan salah satu dasar Islam. Iman seseorang tidak sempurna kalau tidak didasarkan pada aqal. Islam, katanya, adalah agama yang pertama kali ‘mempersaudarakan’ antara aqal dan agama. Menurutnya, kepercayaan kepada eksistensi Tuhan juga berdasarkan aqal. Kemudian dia beranggapan bahwa wahyu yang dibawa Nabi tidak mungkin bertentangan dengan aqal. Kalau ternyata antara keduanya terdapat pertentangan, menurutnya, terdapat penyimpangan dalam tataran interpretasi, sehingga diperlukan interpretasi lain yang mendorong pada penyesuaian.
Kebebasan Manusia
Dalam paham Ahlus Sunnah, manusia bebas untuk memilih, namun Allah yang menciptakan/mewujudkan perbuatan manusia. Ada pun dalam paham Mu’tazilah dan Qodariyah, manusia bebas untuk memilih dan manusia pula yang mewujudkan perbuatannya. Lalu bagaimana dengan Muhammad Abduh? Apakah ia cenderung kepada Ahlus Sunnah, atau justeru cenderung kepada Mu’tazilah?
Bagi Muhamamd abduh, di samping mempunyai daya fikir, manusia juga mempunyai kebebasan memilih, yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia. Kalau sifat dasar ini dihilangkan dari dirinya, maka ia bukan manusia lagi, tetapi makhluq lain. Manusia dengan aqalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan yang dilakukannya, kemudian mengambil keputusan dengan kemauannya sendiri, dan selanjutnya mewujudkan perbuatannya itu dengan daya yang ada dalam dirinya. [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 65] Sungguh mirip paham mu’tazilah.
Karena yaqin akan kebebasan dan kemampuan manusia, Abduh melihat bahwa Tuhan tidak bersifat muthlaq. Tuhan telah membatasi kehendak muthlaq-Nya dengan memberi kebebasan dan kesanggupan (qudrah) kepada manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Kehendak muthlaq Tuhan pun dibatasi oleh sunnatullah secara umum. Ia tidak mungkin menyimpang dari sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya. Di dalamnya terkandung arti bahwa Tuhan dengan kemauan-Nya sendiri telah membatasi kehendak-Nya dengan sunnatullah yang diciptakan-Nya untuk mengatur alam ini. [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 75 dan 77]
Muhammad Abduh sefaham dengan Mu’tazilah yang beranggapan bahwa wajib bagi Tuhan untuk berbuat apa yang terbaik bagi manusia. [Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1978, hlm. 80]
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KONSEP WAHYU

BAB II

PEMBAHASAN
Konsep Wahyu
Pengertian Wahyu
Dikatakan wahaitu ilaihi atau auhaitu bila kita berbicara kepada seseorang agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adl isyarat yg cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang dan terkadang melalui suara semata dan terkadang pula melalui isyarat dgn anggota badan.
Al-wahyu adl kata masdar/infinitif dan materi kata itu menunjukkan dua dasar yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan bahwa wahyu adl pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yg khusus diberikan kepada orang yg diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi kadang-kadang juga bahwa yg dimaksudkan adl al-muha yaitu pengertian isim maf’ul yg diwahyukan.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi Ilham sebagai bawaan dasar manusia seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ‘Susuilah dia ..’. .
Ilham berupa naluri pada binatang seperti wahyu kepada lebah Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah ‘Buatlah sarang di bukit-bukit di pohon-pohon kayu dan di rumah-rumah yg didirikan manusia’. {An-Nahl 68}.
Isyarat yg cepat melalui rumus dan kode seperti isyarat Zakaria yg diceritakan Alquran Maka keluarlah dia dari mihrab lalu memberi isyarat kepada mereka ‘Hendaknya kamu bertasbih di waktu pagi dan petang’. {Maryam 11}.
Bisikan dan tipu daya setan utk menjadikan yg buruk kelihatan indah dalam diri manusia. Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. . Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yg lain perkataan-perkataan yg indah-indah utk menipu mereka.
.
Apa yg disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah utk dikerjakan. Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu maka teguhkanlah pendirian orang-orang yg beriman’. {Al-Anfal 12}.
Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar’i mereka definisikan sebagai kalam Allah yg diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul yaitu almuha . Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid adl pengetahuan yg didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dgn disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yg menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda antara wahyu dgn ilham adl bahwa ilham itu intuisi yg diyakini jiwa sehingga terdorong utk mengikuti apa yg diminta tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dgn perasaan lapar haus sedih dan senang.
Tujuan Wahyu Diturunkan
Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa wahyu mempunyai tiga tujuan pokok:
1.      Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
2.      Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
3.       Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke   jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Cara Penyampaian Wahyu
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dalam proses pewahyuannya, terdapat beberapa cara untuk menyampaikan wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, diantaranya:
§  Malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi. Dalam hal ini, Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada di dalam kalbunya. Mengenai hal ini, Nabi mengatakan: Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku,
§  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi menjadi seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga Nabi mengetahui dan dapat menghafal kata-kata itu.
§  Wahyu datang kepada Nabi seperti gemerincingnya lonceng. Cara ini dirasakan paling berat bagi Nabi. Kadang pada keningnya berkeringat, meskipun turunnya wahyu di musim dingin. Kadang unta Baginda Nabi terpaksa berhenti dan duduk karena merasa berat bila wahyu turun ketika Nabi sedang mengendarai unta.
§  Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar sebagaimana rupa aslinya
Kandungan Wahyu
1.      Tauhid – Keimanan terhadap Allah SWT
2.      Ibadah – Pengabdian terhadap Allah SWT
3.      Akhlak – Sikap & perilaku terhadap Allah SWT, sesama manusia dan makhluk lain
4.       Hukum – Mengatur manusia
5.      Hubungan Masyarakat – Mengatur tata cara kehidupan manusia
6.      Janji Dan Ancaman – Reward dan punishment bagi manusia
7.       Sejarah – Teledan dari kejadian di masa lampau

 

BAB III
PENUTUP
I.                   Simpulan
Jadi menurut kami definisikan sebagai kalam Allah yg diturunkan kepada seorang nabi. Tiga tujuan pokok 1. Sebagai Petunjuk akidah dan kepercayaan 2. Sebagai Petunjuk mengenai akhlak yang murni 3. Sebagai Petunjuk mengenal syariat dan hokum. Cara penyampaian wahyu 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi 2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi menjadi seorang lelaki 3. Wahyu datang kepada Nabi seperti gemerincingnya lonceng. Kandungan Wahyu ialah Tauhid, Ibadah, Akhlak, Hukum, Hubungan Masyarakat, Janji Dan Ancaman
II.                Saran
Mungkin jika di teliti lebih dari sudut pandang yang berbeda akan muncul kesimpulan lain dan lebih baik. Namun untuk saat ini kami susdah merasa cukup. Dan apabila muncul pemikiran pemikiran yang lebih baik dalam pembahsan ini kami akan lakukan perubahan yang lebih baik pada pembahsan nanti.
DAFTAR PUSTAKA
www.google.com kata kunci “ pengertian wahyu” di unduh terahir tanggal 22 maret 2012
www.google.com kata kunci “ kandungan wahyu dalam al qura’an” di unduh terahir tanggal 22 maret 2012
www.google.com kata kunci “tujuan alqura’an diturunkan” di unduh terahir tanggal 22 maret 2012
www.google.com kata kunci “ cara penurunan wahyu” di unduh terahir tanggal 22 maret 2012
 STAI ATTANWIR
WWW.budifilo.wordpress.com
Posted in Uncategorized | Leave a comment

ARTEFAK “CANDI HINDU BUDHA DI INDONESIA”

KATA PENGANTAR

Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah .
Sebagai  ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi keanekaragaman fisik, budaya, perilaku, keanekaragaman tradisi dan nilai-nilai yang dihasilkan manusia. Dan dalam makalah ini membahas tentang artefak(candi hindu budha di Indonesia beserta fungsinya) yang menyangkut tentang wujud wujud kebudayaan di indonesia.
 Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing kita  ibu  Retno  Susanti yang telah membimbing kita dalam pembuatan tugas makalah ini hingga bisa tersusun dengan rapi dan sesuai standar  pembuatan makalah.
Harapan kami dengan tersusunya makalah ini akan semakin banyak pembaca yang menjadikan makalah ini sebagai salah satu refrensi untuk mempelajari dan memahani tentang ilmu antropologi.
Tak ada  gading yang tak retak, Kita sadar sebagi mahasiswa baru tentunya kita masih banyak kekurangan untuk menuntaskan masalah secra sendirian. Dan bila mana terdapat kesalahan kami mohon saran dari pembaca.
Penyusun
Ahmad Budianto

 

DAFTAR ISI
1.      Kata Pengantar………………………………………………………………………… 1
2.      Daftar Isi………………………………………………………………………………..2
3.      Bab I
Pendahuluan…………………………………………………………………………….3
4.      Bab II
Pembahsan………..………………………………………………………………….….4
5.      Bab III
Penutup …………………………………………………………………………………….7
Simpulan……………………………………………………………………………………7
Saran………………………………………………………………….…………………….7
6.      Daftar Pustaka ………………………………………………………………………….8

 

BAB I
PENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang
Menurut J.J. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 1986), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1. Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2. Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3. Artefak (karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
II.                Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud  dengan artefak?
b.      Apa yang di sebut candi?
c.       Apa sajakah jenis candi di Indonesia?
d.      Apa fungsi candi hindu budha di indonesia?
III.                Tujuan
a.       Mengetahui pengertian artefak
b.      Mengetahui pengertian tentang candi
c.       Dapat menyebutkan jenis candi di indonesia
d.      Mengetahui  fungsi candi hindu budha di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
Artefak dalam arkeologi mengandung pengertian benda (atau bahan alam) yang jelas dibuat oleh (tangan) manusia atau jelas menampakkan (observable) adanya jejak-jejak buatan manusia padanya (bukan benda alamiah semata) melalui teknologi pengurangan maupun teknologi penambahan pada benda alam tersebut.
Atefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Ada benda benda yang sangat besar seperti pabrik baja, ada juga benda benda yang sangat kompleks dan canggaih, seperti computer berkapasitas tinggi, atau benda benda yang besar dan bergerak seperti kapal tangki minyak atau bangunan hasil seni arsitek seperti sebuah candi yang indah. Kita tidak akan menguraikan contoh diatas satu peratu namun kita akan menyinggung tentang candi.
1.      Candi
Candi secara diduga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian. Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen tempat pedharmaan untuk memuliakan raja anumerta (yang sudah meninggal) contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapat. Akan tetapi, istilah ‘candi’ tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala non-religius dari masa Hindu-Buddha Indonesia klasik, baik sebagai istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.
Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadahpeninggalan purbakala yang berasal dari peradaban HinduBuddha. Bangunan ini digunakan seba gai tempat pemujaandewa-dewi ataupun memuliakan Buddha.
Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya. Kesepakatan di dunia arkeologiadalah menamai candi itu berdasarkan nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang sudah diketahui masyarakat sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda yang terkait dengannya.
2.      Jenis candi di indonesia
Di Indonesia, candi dapat ditemukan di pulau JawaBaliSumatera, dan Kalimantan, akan tetapi candi paling banyak ditemukan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kebanyakan orang Indonesia mengetahui adanya candi-candi di Indonesia yang termasyhur seperti BorobudurPrambanan, dan Mendut.
a.       Candi Hindu, yaitu candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu, contoh: candi Prambanan, candi Gebang, kelompok candi Dieng, candi Gedong Songocandi Panataran, dan candi Cangkuang.
b.      Candi Buddha, candi yang berfungsi untuk pemuliaan Buddha atau keperluan bhiksu sanggha, contoh candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibocandi Sumberawancandi Jabung, kelompokcandi Muaro Jambicandi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal.
3.      fungsi candi di Indonesia
Fungsi candi sangatlah luas, diantaranya adalah:
  1. Candi sebagai Pemujaan: candi Hindu yang paling umum, dibangun untuk memuja dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu, contoh: candi Prambanan, candi Canggalcandi Sambisari, dan candi Ijo yang menyimpan lingga dan dipersembahkan utamanya untuk Siwacandi Kalasan dibangun untuk memuliakan Dewi Tara, sedangkan candi Sewu untuk memujaManjusri.
  2. Candi sebagai Stupa: didirikan sebagai lambang Budha atau menyimpan relik buddhis, atau sarana ziarah agama Buddha. Secara tradisional stupa digunakan untuk menyimpan relikui buddhis seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau bhiksu Buddha terkemuka, atau keluarga kerajaan penganut Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai sarana ziarah dan ritual, contoh: candi Borobudurcandi Sumberawan, dan candi Muara Takus
  3. Candi sebagai Pedharmaan: sama dengan kategori candi pribadi, yakni candi yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal. Candi ini kadang berfungsi sebagai candi pemujaan juga karena arwah raja yang telah meninggal seringkali dianggap bersatu dengan dewa perwujudannya, contoh: candi Belahan tempat Airlanggadicandikan, arca perwujudannya adalah sebagai Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara.
  4. Candi sebagai Pertapaan: didirikan di lereng-lereng gunung tempat bertapa, contoh: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, kelompok candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain berfungsi sebagai pemujaan, juga merupakan tempat pertapaan sekaligus situs permukiman.
  5. Candi sebagai Wihara: didirikan untuk tempat para biksu atau pendeta tinggal dan bersemadi, candi seperti ini memiliki fungsi sebagai permukiman atau asrama, contoh: candi Sari dan Plaosan
  6. Candi sebagai Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contoh: gerbang di kompleks Ratu BokoBajang RatuWringin Lawang, dan candi Plumbangan.
  7. Candi sebagai Petirtaan: didirikan didekat sumber air atau di tengah kolam dan fungsinya sebagai pemandian, contoh:Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus.

 

BAB III
PENUTUP
I.                   Simpulan
Jadi menurut kami Atefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadahpeninggalan purbakala yang berasal dari peradaban HinduBuddha. Bangunan ini digunakan seba gai tempat pemujaandewa-dewi ataupun memuliakan Buddha. Jenis candi di Indonesia, Candi Hindu, yaitu candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu, contoh: candi Prambanan, candi Gebang, kelompok candi Dieng, candi Gedong Songocandi Panataran, dan candi Cangkuang. Candi Buddha, candi yang berfungsi untuk pemuliaan Buddha atau keperluan bhiksu sanggha, contoh candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibocandi Sumberawancandi Jabung, kelompok candi Muaro Jambicandi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal. Fungsi candi adalah Candi sebagai Pemujaan, Candi sebagai Stupa, Candi sebagai Pedharmaan, Candi sebagai Pertapaan, Candi sebagai Wihara, Candi sebagai Gerbang, Candi sebagai Petirtaan.
II.                Saran
Mungkin jika di teliti lebih dari sudut pandang yang berbeda akan muncul kesimpulan lain dan lebih baik. Namun untuk saat ini kami susdah merasa cukup. Dan apabila muncul pemikiran pemikiran yang lebih baik dalam pembahsan ini kami akan lakukan perubahan

 

DAFTAR PUSTAKA
www.google.com Keyword “candi hindu budha di Indonesia” terakkir di unduh tanggal 10 april 2012
www.google.com Keyword “fungsi candi hindu budha di Indonesia” terakkir di unduh tanggal 10 april 2012
www.google.com Keyword “wujud kebudayaan” terakkir di unduh tanggal 10 april 2012
http//www.ahmadbudi2991.blogspot.com keyword artefak.
WWW.budifilo.wordpress.com
Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEJARAH BK DI INDONESIA

Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia dan Internasonal

Nama                          : Ahmad Budianto
NIM                            :  2011143320144
Prodi/jur/SMT           : BKI/ DAKWAH/II
Label                          : Tugas 1
Mata  Kuliah             :  PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING
A.    Sejarah bimbingan dan konseling di Indonesia,
Pelayanan Konseling dalam system pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK)sampai dengan sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962. Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum 1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir didalamnya. Perkembangan BK semakin mantap pada tahun 2001.
Fase – fase perkembembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
1.         Perkembangan bimbingan dan konseling sebelum kemerdekaan
        Masa ini merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang, para siswa didiik untuk mengabdi demi kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa Indonesia berusaha untuk memperjuangkan kemajun bangsa   Indonesia melalui pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang bimbingan, hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.
2.         Dekade 40-an
Dalam bidang pendidikan, pada dekade 40-an lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang serba darurat manakala pada saat itu di upayakan secara bertahap memecahkan masalah besar anatara lain melalui pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 45. Hal ini pulalaah yang menjadi fokus utama dalam bimbingan pada saat itu.
3.         Dekade 50-an
Bidang pendidikan menghadapi tentangan yang amat besar yaitu memecahkan masalah kebodohan dan keterbelakangan rakyat Indonesia. Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan benar benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa disekolah agar dapat berprestasi.
4.      Dekade 60-an
Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada dekade ini :

1.      Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang dasar pendidikan nasional
2.      Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru 1964
3.      Lahirnya kurikulum 1968
4.      Lahirnya jurusan bimbingan dan konseling di IKIP tahun 1963membuka Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan yang sekarang dikenal di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan nama Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB).
Keadaan dia tas memberikan tantangan bagi keperluan pelayanan bimbinga dan konseling disekolah.
5.      Dekade 70-an
Dalam dekade ini bimbingan di upayakan aktualisasi nya melalui penataan legalitas sistem, dan pelaksanaannya. Pembangunan pendidikan terutama diarahkan kepada pemecahan masalah utama pendidikan yaitu :
1.      Pemerataan kesempatan belajar,
2.      Mutu,
3.      Relevansi, dan
4.      Efisiensi.
Pada dekade ini, bimbingan dilakukan secara konseptual, maupun secara operasional. Melalui upaya ini semua pihak telah merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan dimana bimbingan dan konseling.
6.      Dekade 80-an
Pada dekade ini, bimbingan ini diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk menuju kepada perwujudan bimbingan yang professional. Dalam dekade 80-an pembangunan telah memasuki Repelita III, IV, dan V yang ditandai dengan menuju lepas landas.
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini:
1.      Penyempurnaan kurikulum
2.      Penyempurnaan seleksi mahasiswa baru
3.      Profesionalisasi tenaga pendidikan dalam berbagai tingkat dan jenis
4.      Penataan perguruan tinggi
5.      Pelaksnaan wajib belajar
6.      Pembukaan universitas terbuka
7.      Lahirnya Undang – Undang pendidikan nasional
Beberapa kecenderungan yang dirasakan pada masa itu adalah kebutuhan akan profesionalisasi layanan, keterpaduan pengelolaan, sistem pendidikan konselor, legalitas formal, pemantapan organisasi, pengmbangan konsep – konsep bimbingan yang berorientasi Indonesia, dsb.
7.      Meyongsong era Lepas landas
Era lepas landas mempunyai makna sebagai tahap pembangunan yang ditandai dengan kehidupan nasional atas kemampuan dan kekuatan sendiri khususnya dalam aspek ekonomi. Cirri kehidupan lepas landas ditandai dengan keberadaan dan berkembang atas dasar kekuatan dan kemampuan sendiri, maka cirri manusia lepas landas adalah manusia yang mandiri secara utuh dengan tiga kata kunci : mental, disiplin, dan integrasi nasional yang diharapkan terwujud dalam kemampuannya menghadapi tekanan – tekanan zaman baru yang berdasarkan peradaban komunikasi informasi.
8.      Bimbingan berdasarkan pancasila
Bimbingan mempunyai peran yang amat penting dan strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Manusia Indonesia yang dicita-citakan adalah manusia pancasila dengan cirri-ciri sebagaimana yang terjabar dalam P-4 sebanyak 36 butir bagi  bangsa Indonesia, pancasila merupakan dasar Negara, pandangan hidup, kepribadian bangsa dan idiologi nasional. Sebagai bangsa, pancasila menuntut bangsa Indonesia mampu menunjukkan ciri-ciri kepribadiannya ditengah-tengah pergaulan dengan bangsa lain. Bimbingan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan dan mempunyai tanggung jawab yang amat besar guna mewujudkan manusia pancasila karena itu seluruh kegiatan bimbingan di Indonesia tidak lepas dari pancasila.
B.     Sejarah bimbingan dan konseling di Dunia Internasional
Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru.
Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri. Tahun 1898 Jesse B. Davis, seorang konselor di Detroit mulai memberikan layanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907 dia memasukkan program bimbingan di sekolah tersebut.
Pada waktu yang sama para ahli yang juga mengembangkan program bimbingan ini diantaranya; Eli Weaper, Frank Parson, E.G Will Amson, Carlr. Rogers.
Eli Weaper pada tahun 1906 menerbitkan buku tentang “memilih suatu karir” dan membentuk komite guru pembimbing disetiap sekolah menengah di New York. Kamite tersebut bergerak untuk membantu para pemuda dalam menemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang bimbingan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja yang produktif.
Frank Parson dikenal sebagai “Father of The Guedance Movement in American Education”. Mendirikan biro pekerjaan tahun 1908 di Boston Massachussets, yang bertujuan membantu pemuda dalam memilih karir uang didasarkan atas proses seleksi secara ilmiyah dan melatih guru untuk memberikan pelayanan sebagai koselor.
Bradley (John J.Pie Trafesa et. al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut:
1.Vocational exploration : Tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja
2.Metting Individual Needs : Tahapan yang menekankan membantu individu agar meeting memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembangan BK pada tahapan ini dipengaruhi oleh diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
3.Transisional Professionalism : Tahapan yang memfokuskan perhatian kepada upaya profesionalisasi konselor
4.Situasional Diagnosis : Tahapan sebagai periode perubahan dan inovasi pada tahapan ini memfokuskan pada analisis lingkungan dalam proses bimbingan dan gerakan cara-cara yang hanya terpusat pada individu.
C.    Di Amerika Serikat
 Bimbingan dimulai pada abad 20 di amerika dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal dengan nama the father of guidance yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada  dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi denga memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi dirinya.

Menurut Arthur E. Trax and Robert D North, dalam bukunya yang berjudul “Techniques of Guidance”, (1986), disebutkan beberapa kejadian penting yang mewarnai sejarah bimbingan diantaranya :

1.      Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Timbul suatu gerakan kemanusiaan yang menitik beratkan pada kesejahteraan manusia dan kondisi sosialnya. Geraka ini membantu vocational bureau Parsons dalam bidang keungan agar dapat menolong anak-anak muda yang tidak dapat bekerja dengan baik.
2.      Agama
Pada rohaniman berpandangan bahwa dunia adalah dimana ada pertentangan yang secara terus menerus antara baik dan buruk.
3.      Aliran kesehatan mental
Timbul dengan tujuan perlakuan yang manusiawi terhadap penderita penyakit jiwa dan perhatian terhadap berbagai gejala, tingkat penyakit jiwa, pengobatan, dan pencegahannya, karna ada suatu kesadaran bahwa penyakit ini bias diobati apabila ditemukan pada tingkat yang lebih dini. Gerakan ii mendorong para pendidik untuk lebih peka terhadap masalah-masalah gangguan kejiwaan, rasa tidak aman, dan kehilangan identitas diantra anak-anak muda.
4.      Perubahan dalam masyarakat
Akibat dari perang dunia 1 dan 2, pengangguran, depresi, perkembangan IPTEK, wajib belajar, mendorong beribu-ribu anak untuk masuk sekolah tanpa mengetahui untuk apa mereka bersekolah. Perubahan masyarakat semacam ini mendorong para pendidik untuk memperbaiki setiap anak sesuai dengan kebutuhannya agar mereka dapat menyelesaikan pendidikannya dengan berhasil.
5.      Gerakan mengenal siswa sebagai individu
Gerakan ini erat sekali kaitannya dengan gerakan tes pengukuran. Bimbingan diadakan di sekolah disebabkan tugas sekolah untuk mengenal atau memahami siswa-siswanya secara individual. Karena sulitnya untuk mengenal atau memahami siswa secara individual atau pribadi, maka diciptakanlah berbagai teknik dan instrument diantaranya tes psikologis dan pengukuran.
Dafta Pustaka
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN
http://tivachemchem.blogspot.com/2010/10/sejarah-bimbingan-konseling.html
Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas.
http://www.ahmadbudi.2991.blogspot.com keyword sejarah bk di indonesia dan dunia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

HAKIKAT DAN URGENSI BIMBINGAN KONSELING

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).

Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.
Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri.
Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabu-sabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex).
Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut.
Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian.
Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1).
Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual).
DAFTAR RUJUKAN
AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselorhttp://aace.ncat.edu
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN
Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas.
Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall
Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD.
Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association).
Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company.
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,
Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL,
Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources InformationCenter.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

MUNASABAHUL QUR’AN “ulumul qur’an”

PEMBAHASAN

A.Pengertian Munasabah
     Menurut bahasa “Munasabah” berarti persesuaian atau hubungan atau relevensi yaitu hubungan/persesuaian antara ayat / surat satu dengan ayat/surat sebelumnya atau sesudahnya.
     Menurut istilah “Munasabah atau ilmu Tanasub al-Ayat wa as-Suwar” ialah ilmu untuk mengetahui alasan-alasan penertiban dari bagian-bagian Al-qur’an yang mulia.
Ilmu ini menjelaskan tentang segi-segi hubungan antara beberapa ayat atau beberapa surat Al-qur’an . Pengertian munasabah ini tidak hanya sesuai dalam arti sejajar dan paralel saja,melainkan yang kontraksipun termasuk munasabah. Sebab ayat-ayat Al-qur’an itu kadang-kadang merupakan “takhsis” (pengkhususan) dari ayat yang umum, kadang-kadang sebagai penjelas hal-hal yang kongkrit terhadap hal-hal yang abstrak.
B.Macam-Macam Munasabah dalam Al-qur’an.
a)       Jika ditinjau dari Segi Sifat Munasabah atau Keadaan Persesuaian dan  Persambungannya , maka ada 2 macam:
1.      Persesuaian yang nyata (zahir al-irtibat) atau persesuaian yang jelas yaitu yang persambungan atau persesuaian antara bagian Al-qur’an yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat, karena kalimat yang satu dengan yang lain kaitannya sangat erat , sehingga apabila kalimat yang satu dipisahkan dengan yang lainnya maka tidak sempurna.Maka dari deretan beberapa ayat yang menerangkan suatu materi kadang –kadang ayat yang satu berupa penguat, penafsir, penyambung , penjelas , pengecualian atau pembatasan dari ayat yang lain , sehingga semua ayat-ayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang sama contoh:
z`»ysö6ߙ ü“Ï%©!$# 3“uŽó r& ¾Ínωö7yèÎ/ Wxø‹s9 šÆÏiB Ï‰Éfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# ’n<Î) Ï‰Éfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# “Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym ¼çmtƒÎŽã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»tƒ#uä 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# çŽÅÁt7ø9$# ÇÊÈ
Artinya            : Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami  perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
$oY÷s?#uäur Óy›qãB |=»tGÅ3ø9$# çm»oYù=yèy_ur “W‰èd ûÓÍ_t6Ïj9 Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) žwr& (#rä‹Ï‚­Gs? `ÏB ’ÎTrߊ Wx‹Å2ur ÇËÈ
Artinya            :Dan kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman). “janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”.
Persesuaian kedua ayat tersebut ialah mengenai diutusnya kedua orang Nabi atau Rosul tersebut.
2.      Persambungan yang tidak jelas (khafiyyu al-irtibath) atau samanya persesuaiaan antara bagian Al-qur’an dengan yang lain , sehingga tidak tampak adanya pertalian keduanya. Contoh: hubungan antara ayat 189 dan 190 dalam surah Al-Baqoroh.
* štRqè=t«ó¡o„ Ç`tã Ï’©#ÏdF{$# ( ö@è% }‘Ïd àM‹Ï%ºuqtB Ä¨$¨Y=Ï9 Ædkysø9$#ur 3 }§øŠs9ur •ŽÉ9ø9$# br’Î/ (#qè?ù’s? šVqãŠç6ø9$# `ÏB $yd͑qßgàß £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# Ç`tB 4†s+¨?$# 3 (#qè?ù&ur šVqã‹ç7ø9$# ô`ÏB $ygÎ/ºuqö/r& 4(#qà)¨?$#ur ©!$# öNà6¯=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÊÑÒÈ
Ayat tersebut menerangkan bukan sabit/ tanggal- tanggal untuk tanda-tanda waktu untuk ibadah haji.
(#qè=ÏG»s%ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# tûïÏ%©!$# óOä3tRqè=ÏG»s)ムŸwur (#ÿr߉tG÷ès? 4 žcÎ) ©!$# Ÿw =ÅsムšúïωtG÷èßJø9$# ÇÊÒÉÈ
Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat islam.
            Sepintas kedua ayat tersebut tidak ada hubungannya padahal sebenarnya ada hubungannya. Surat Al baqarah 189 menerangkan waktu untuk haji sedangkan ayat 190 menerangkan sesungguhkan waktu
ibadah haji itu umat islam dilarang berperang, akan tetapi jika umat islam diserang terlebih dahulu , maka serangan musuh itu harus dibalas.
b)      Ditinjau dari segi materi dalam alqur’an ada 7 macam :
1)      Munasabah antara surat dengan surat sebelumnya, satu surat       berfungsi menjelaskan surat sebelumnya
Contoh : Q.S Al-fatihah ayat 6
$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# “tunjukkanlah kami kejalan yang lurus”
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
“kitab(al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”(Q.S Al-baqoroh:2)”
Ø  Jadi jalan lurus itu ialah mengikuti petunjuk alqur’an.
2)      Munasabah antara nama surat dengan isi atau tujuan surat,
Contoh: Q.S An-nisa’ yang banyak menceritakan persoalan perempuan. Nama surat al-baqoroh yang berisi tentang kisah sapi betina.
øŒÎ)ur tA$s% 4Óy›qãB ÿ¾ÏmÏBöqs)Ï9 ¨bÎ) ©!$# ôMä.âßDù’tƒ br& (#qçtr2õ‹s? Zots)t/ ( (#þqä9$s% $tRä‹Ï‚­Gs?r& #Yrâ“èd ( tA$s% èŒqããr& «!$$Î/ ÷br& tbqä.r& z`ÏB šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÏÐÈ (#qä9$s%äí÷Š$# $uZs9 y7­/u‘ ûÎiüt7ム$uZ©9 $tB }‘Ïd 4 tA$s% ¼çm¯RÎ) ãAqà)tƒ $pk¨XÎ) ×ots)t/ žw ÖÚ͑$sù Ÿwur íõ3Î/ 8b#uqt㠚ú÷üt/ y7Ï9ºsŒ ( (#qè=yèøù$$sù $tB šcrãtB÷sè? ÇÏÑÈ(#qä9$s% äí÷Š$# $oYs9 š­/u‘ ûÎiüt6ム$oY©9 $tB $ygçRöqs9 4 tA$s% ¼çm¯RÎ) ãAqà)tƒ $pk¨XÎ) ×ots)t/ âä!#tøÿ|¹ ÓìÏ%$sù $ygçRöq©9 ”Ý¡s? šúï̍Ï໨Z9$# ÇÏÒÈ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya. “sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata : “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan ? Musa menjawab : “Aku berlindung kepada Allah agar tidak salah seseorang dari orang-orang yang jahil”. “Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhan-mu untuk Kami agar dia menerangkan kepada kami, Sapi betina apakah itu?”. Musa menjawab “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda : maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Mereka berkata, “mohonkanlah kepda Tuhan-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab.” Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya lagi menyenangkan orang-orang memandangnya”.
Ø  Tujuan surat ini adalah menyangkut kekuasaan Tuhan dan keimanan paa hari kemudian.
3)      Hubungan antara ayat pertama yang terdiri dari beberapa huruf dengan isi surat, misalnya: huruf alif, lam, dan mim pada surat-surat yang dimulai dengan alif lam mim semuanya dapat dibagi 19.
4)      Hubungan antara kalimat yang lain dalam satu ayat, misalnya Q.S Al-fatihah ayat 1. ”segala puji bagi Allah ”lalu sifat Allah dijelaskan pada kalimat berikutnya, Ayat:”Tuhan semesta alam”.
5)      Hubungan antara ayat pertama dengan ayat terakhir dalam satu surat, misalnya Q.S Al-mu’minun ayat 1 dimulai dengan
ô‰s% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ “sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” .
Kemudian bagian akhir surat ayat 117.
¼çm¯RÎ) Ÿw ßxÎ=øÿムtbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÊÊÐÈ “Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung”.
6)      Hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam satu surat.
Misalnya, kata“Muttaqin” dalam surat al-baqoroh : 2 dijelaskan pada ayat berikutnya mengenai ciri-ciri orang orang yang bertaqwa.
7)      Hubungan antara penutup surat dengan awal surat berikutnya.
Misalnya, akhir Q.S Al-waqi’ah: 96
ôxÎm7|¡sù ËLôœ$$Î/ y7În/u‘ ËLìÏàyèø9$# ÇÒÏÈ
“maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhan-mu Yang Maha Besar”.
Lalu surat berikutnya Q.S Al-hadid:1
yx¬7y™ ¬! $tB ’Îû ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ( uqèdur â“ƒÍ•yèø9$# ãLìÅ3ptø:$# ÇÊÈ
“semua yang berada di langit dan dibumi bertasbihlah kepada Allah(menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
C.Urgensi Munasabah dan Kegunaan Mempelajarinya.
              Ahli tafsir biasanya memulai penafsirannya dengan asbab an-nuzul ayat. Sebagian juga bertanya-tanya dengan mendahulukan penguraian tentang asbab an-nuzul atau mendahulukan penjelasan tentang munasabah ayat-ayat.
              Pengetahuan mengenai korelasi atau Munasabah antara ayat-ayat bukanlah tauqifi ( sesuatu yang ditetapkan Rasul) Melainkan hasil ijtihad mufassir, penghayatan terhadap kemu’jizatan Alquran, rahasia retorika dan keterangannya sendiri. Seorang Mufassir terkadang dapart membuktikan munasabah antara ayat-ayat terkadang juga tidak. Dia tidak perlu memaksakan menemukan kesesuaian itu. Sedangkan wahyu dan al-qur’an yang tidak dapat dipisah menjadikan keberadaan ilmu munasabah menjadi penting dalam memahami al-qur’an secara utuh.
              Secara global munasabah mempunyai 2 arti,
Pertama, Sebagai metodhe memahami al-qur’an .
Kedua, memudahkan orang untuk memahami ma’na ayat atau surat.
              Secara singkat manfaat munasabah dalam memahami ayat al-qur’an ada 2:
Pertama, memahami keutuhan, keindahan, dan kehalusan bahasa, serta membantu kita dalam memahami keutuhan ma’na al-qur’an
Kedua, untuk menemukan korelasi antar ayat.
              Secara umum ada 4 hal yang menunjukkan pentingya kajian munasabah dalam al-qur’an.
1)      Mengetahui korelasi antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat
2)      Memperlihatkan keserasian susunan ayat-ayat atau kalimat-kalimat al-qur’an
3)       Mengetahui hubungan antara bagian alqur’an, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap al-qur’an
4)      Membantu menafsikan ayat-ayat al-quran setelah diketahui hubungannya baik dengan kalimat maupun ayat.
daftar pustaka
Posted in Uncategorized | Leave a comment