Teori konseling psikoanalisa

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Teori konseling psikoanalisa dikembangkan oleh seorang neurology dari Wina, Sigmund Freud, pada awal tahun 1890-an. Formulasi teoritik dari teori ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman atau kehidupan masa kanak-kanak Freud, khususnya cara kedua orangtuanya memperlakukannya. Teorinya tentang kompleks oodipus misalnya, dipengaruhi oleh ketertarikannya bahkan mungkin minat seksualnya terhadap ibunya yang dinilainya sebagai seorang wanita yang rupawan dan lemah lembut, dan perasaan benci terhadap ayahnya yang sanagat keras dalam mendidiknya.

Freud mula-mula seorang dokter (neurolog) yang kemudian tertarik untuk belajar psikiatri dan gangguan psikologis. Dari hasil kolaborasi dengan gurunya, Josef Bruer, dan koleganya, Jean Charcot, Freud belajar dan mengembangkan teknik hipnotis dan ekspresi verbal untuk menangani gangguan emosi (neurotis), meskipun kemudian ia menyadari bahwa teknik tersebut ternyata kurang  efektif dan kemudian mengembangkan teknik yang lain, yakni asosiasi bebas.

Melalui karya-karyanya pada tahun 1890-an Freud mulai menekankan pentingnya pengalaman seksualitas pada masa anak sebagai faktor yang mempenagaruhi histeria dan neurosis. Istilah psikoanalisa mulai diperkenalkan oleh Freud pada tahun 1896 dari hasil  kerjanya sejak tahun 1895 hingga 1899 dalam menganalisis impian dan fantasinya sendiri, Freud memperkenalkan suatu metode yang ia sebut analisis mimpi. Hasil karya yang paling terkenal dari Freud adalah konstruknya tentang tiga struktur kepribadian, yakni id, ego, dan superego.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa hakikat manusia menurut teori Sigmund Frued?
    2. Bagaimana perkembangan prilaku manusia menurut teori Sigmund Frued?
    3. Apa hakikat konseling menurut teori Sigmund Frued?
    4. Bagaimana kondisi pengubahan menurut teori Sigmund Frued?
    5. Bagaimana mekanisme pengubahan menurut teori Sigmund Frued?
    6. Apakah hasil penelitian Sigmund Frued?
    7. Apakah kelemahan dan kelebiha teori Sigmund Frued?
    8. C.    Tujuan
      1. Mengetahui hakikat manusia menurut teori Sigmund Frued
      2. Mengetahui perkembangan prilaku manusia menurut teori Sigmund Frued
      3. Mengetahui hakekat konseling menurut teori Sigmund Frued
      4. Mengetahui kondisi pengubahan menurut teori Sigmund Frued
      5. Mengtehaui mekanisme pengubahan menurut teori Sigmund Frued
      6. Mengetahui hasil penelitian menurut teori Sigmund Frued
      7. Mengetahui kelemahan dan kelebihan menurut teori Sigmund Frued

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Hakikat Manusia

Hakikat Manusia menurut Sigmund Freud adalah :

1        Manusia pada dasarnya Deterministik.yaitu tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan irrasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah serta peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.

2        Manusia berisi sistem energi energi Psikis dasar manusia disebut libido. Konsep tentang energy libido dalam arti luas yaitu mencakup segala kenikmatan. Energi instingtif ini “mengarahkan” individu bertahan hidup dan memelihara kelangsungan keturunan. Energi-energi ini memelihara individu untuk tetap tumbuh,berkembang, kreatif. Manusia memiliki naluri-naluri kehidupan dinamakan Eros dan naluri- naluri kematian disebut Thonatos. Contoh ketika remaja mengalami frustasi karena tidak lulus ujian maupun putus cinta ia mengutuk diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Perkembangan perilaku manusia

  1. 1.      Struktur kepribadian

Struktur kepribadian menurut Freud terdiri atas 3 aspek yaitu id,ego, dan superego.

  1. Id (struktur kepribadian primitif) adalah sistem kepribadian yangdimiliki individu sejak lahir dan berisikan potensi bawaan.Tempatnya ada pada alam bawah sadar dan secara langsung berpengaruh terhadap perilaku seseorang tanpa disadari, digerakkan oleh libido, yaitu energi psikis untuk dapat beradaptasi secara fisiologis dan sosial untuk mempertahankan dan mengembangkan spesiesnya. Di dalam id terdapat dorongan naluriah (instingtif) dimana prinsip kerjanya selalu mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit atau ketidak nyamanan. Id menggunakan dua mekanisme: tindakan refleks dan proses primer. Menurut Freud terdapat dua insting dasar dalam Id, yaitu  Eros (naluri hidup) dan Thanatos (naluri mati). Eros merupakan instinguntuk bertahan hidup, dengan libido sebagai dorongan utama. Sedangkan Thanatos merupakan insting yang mendorong individu untuk berperilaku agresif dan destruktif. Cara- cara Id untuk mendapatkan kenikmatan atau menghindarkan ketidakenakan adalah:

1        Melalui reflek-reflek atau reaksi-reaksi otomatis seperti meggeliatkan tubuh, mengedipkan mata, bersin dsb

2         Melalui proses primer yaitu Id “ Membayangkan” ada makanana yang lezat ketika sedang lapar.

  1. Ego memiliki hubungan dengan dunia realita. Ego berkaitan erat dengan prinsip peredaan tegangan dan juga prinsip realita. Tugas utama ego adalah mengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar, ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dan berfikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan. Dengan kata lain ego berfungsi membantu id  memenuhi dan menolak dorongan-dorongannya secara nyata. Ego juga dapat dikatakan sebagai aspek eksekutif dari struktur kepribadian.
  2. Superego  adalah kode moral individu yang berkaitan dengan tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego berfungsi membatasi dorongan-dorongan atau Id dan mengendalikan ego agar tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan moral atau norma masyarakat. Fungsi Super Ego dalam hubungannya dengan fungsi Id dan Ego yaitu merintangi dorongan-dorongan Id, terutama dorongan-dorongan seksual dan agresif yang perwujudannya amat ditentang oleh masyarakat.
    1. 2.      Pribadi sehat dan bermasalah

Kepribadian individu, menurut sigmund Freud, mulai terbentuknya pada beberapa tahun petama khidupannya. Pada usia 5 tahun, hampir seluruh struktur keprbadian individu telah terbentuk, perkembangan berikutnya adalah penghalusan struktur dasar itu. S frued memandang masa kanak-kanak adalah cikal bakal manusia, dan gangguan psikis pada orang-orang dewasa, pada umumnya bercikal bakal pada dari pengalaman masa kanak-kanak.

Secara struktural, pribadi manusia berkembang normal apabila ego dapat mencari jalan yang rasional dan realistis atas konflik antara id dan superego. Secara topografis, orang dapat berkembang normal apabila dapat menyadari ketidak sadarannya. Kedua hal tersebut terjadi pada fase-fase perkembangan psikoseksual.

Periode Perkembangan Psikoseksual

Freud berpendapat bahwa tahapan perkembangan individu yangterpenting terjadi pada 5 tahun pertama kehidupannya, dan periodeperkembangan psikoseksual pada masa ini merupakan landasan bagiperkembangan kepribadian individu selanjutnya: Adapun penjelasanmasing-masing fase adalah sebagai berikut :

  1. Fase Oral (0 – 1 tahun)

 Mulai usia 1 tahun seorang bayi menjalani fase oral, padamasa ini mulut dan bibir merupakan zona yang peka. Kebutuhanakan makanan dan kesenangan dipuaskan dengan aktivitasmenyusu pada ibunya. Benda-benda yang dicari anak dapatmenjadi pengganti bagi apa-apa yang sesungguhnyadiinginkannya, yakni makanan dan cinta dari ibunya. Tugasperkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya,baik kepada diri sendiri, dan orang lain. Cinta adalah perlindunganterbaik terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yangdicintai tidak akan banyak menemui kesulitan dalam menerimadirinya, sebaliknya anak-anak yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima, dan tidak dicintai cenderung mengalami kesulitan dalammenerima dirinya sendiri, dan belajar untuk tidak mempercayaiorang lain, serta memandang dunia sebagai tempat yangmengancam. Efek penolakan pada fase oral akan membentuk anak menjadi pribadi yang penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri,agresif, benci, dan kesepian.

  1. Fase Anal (1– 3 tahun)

Bermula dari tahun kedua berlanjut hingga tahun ketiga, faseanal memiliki arti penting bagi pembentukan kepribadian. Tugasperkembangan pada fase ini adalah anak harus belajar mandiri, danbelajar mengakui dan menangani perasaan-perasaan negatif. Padafase anal anak banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutanorangtua, terutama yang berhubungan dengan toilet training,dimana anak memperoleh pengalaman pertama dalam halkedisiplinan. Banyak sikap terhadap fungsi tubuh sendiri yangdipelajari anak dari orangtuanya. Selama fase anal anak akanmengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasratmerusak, marah, dan sebagainya, namun mereka harus belajarbahwa perasaan-perasaan tersebut bisa diterima. Hal penting lainyang harus dipelajari anak adalah bahwa mereka memilikikekuatan, kemandirian, dan otonomi.

  1. Fase Phalic (3 – 5 tahun)

 Dengan meningkatnya perkembangan kemampuan motorik dan perseptual dari masa sebelumnya pada anak usia tiga tahunkeatas, maka kecakapan-kecakapan interpersonal merupakan fasekemajuan (fase falik) yang terjadi pada anak. Pada fase ini aktivitasseksual anak menjadi lebih intens dan lebih berpusat pada fungsialat kelaminnya, anak-anak menjadi lebih berhasrat untuk melakukan eksplorasi terhadap tubuhnya, dan menemukanperbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin. Fase Phalic juga merupakan periode perkembangan hati nurani, dimana anak belajar mengenai standar-standar moral. Mereka membutuhkancontoh yang memadai bagi identifikasi peran seksual, untuk mengetahui apa yang benar dan salah, serta apa yang maskulin danfeminin, sehingga mereka memperoleh perspektif yang benartentang peran mereka sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.

Selama fase ini pula anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajarmemandang tubuhnya sendiri secara sehat. Masa falik laki-lakiakan ditandai dengan perhatiannya pada ibunya dan penentenganpada ayah dan akan berkembangan perasaan takut bahwa ayahnyaakan menghukumnya kalau tahu bahwa ia menyenangi ibu.Perasaan ini disebut odipus complex yaitu dorongan seksual tidak sadar dari anak laki-laki terhadap ibunya yang disertai keinginanuntuk menggantikan dan menyingkirkan ayahnya. Begitu juga padaanak perempuan pada masa ini anak perempuan akan mengalamikompleks elektra.

  1. Fase Laten (6 – 12 tahun)

Pada fase Laten ketertarikan pada masalah seksual Sudah berkurang, libido ditekan dan anak mulai mengalihkan energinya ke kegiatan sekolah, bersosialisai dengan teman, olah raga, danhobi. Namun berkurangnya perhatian pada masalah seksual itubersifat laten dan masih akan terus memberikan pengaruh pada tahap perkembangan kepribadian berikutnya.

  1. Fase Genital (12 tahun ke atas)

 Fase genital dimulai pada usia 12 tahun, yaitu pada masaremaja awal dan berlanjut terus sepanjang hidup. Pada fase inienergi seksual anak mulai terarah kepada lawan jenis bukan lagi pada kepuasan diri melalui masturbasi, dan anak mulai mengenalcinta kepada lawan jenis. Selain itu kepribadian yang sehatmenurut Freud adalah jika individu bergerak menurut polaperkembangan yang ilmiah, mampu belajar dalam mengatasitekanan dan kecemasan, memiliki kesehatan mental yang baik yaitu hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap iddan ego. Sedangkan pribadi yang bermasalah adalah jika terdapatdinamika yang tidak efektif antara Id, Ego dan Superego,dimungkinkan Ego selalu mengikuti dorongan-dorongannya danmengabaikan tuntutan moral atau Ego selalu mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan jugaproses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak.

Perkembangan Perilaku Bermasalah/Menyimpang

Menurut teori ini pribadi menyimpang berasal /bermasalahbermasalah adalah jika terdapat dinamika yang tidak efektif antaraId, Ego dan Superego, dimungkinkan Ego selalu mengikutidorongan-dorongannya dan mengabaikan tuntutan moral atau Egoselalu mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginanatau kebutuhan dan juga proses belajar yang tidak benar pada masakanak-kanak.

Hakikat Konseling

Freud dalam pendapatnya menyatakan bahwa konseling merupakan proses membantu individu untuk menyadari ketidaksadarannya, dengan kata lain agar individu mengetahui ego dan memiliki ego yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampumemilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan Superego.Seperti diketahui secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan psikonanalisa hakikat konseling adalah sebagai proses re-edukasi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional. Freud menganggap bahwa seseorang yang telah dapat menyadari dengan sendirinya akan dapat mengembangkan tingkah laku yang sesuai yakni tingkah laku yang sesuai dan dapat diterima secara sosial. Dalam proses konseling belajar yakni mengenali bahwa dalam dirinya ada resistensi emosional yang kuat. Proses konseling mementingkan faktor afektif serta penekanannya terletak pada faktor interpersonal.

Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam proseskonseling, yaitu:

  1. Kontrak dan mengatur teknik. Didalam kontrak dan mengatur teknik ini lebih mengarah bagaiamanseorang konselor mampu membuat kesepakatan-kesepakatan dengan klien, baik dari sisi batasan waktu untuk memulai dan mengakhiri, cara menghadapai klien serta bagaimana konselor mampu membuat kondisi klien nyaman namun tidak menyebabkan kecanduan (addict).
  2. Fase pembukaan analitik Dalam fase ini merupakan fase dimana seorang konselor dituntutuntuk mampu mengungkapkan permasalahnnya, sehingga dalam analisisnya konselor mampu membedakan klien yang menunjukkan gejala histeria atau obsesi klien yang mengalami kelainan tingkah laku. Selain daripada itu didalam konseling juga terdapat teknik-teknik untuk intervensi konseling. 

Kondisi Pengubahan

  1. 1.      Tujuan

Tujuan Secara umum konseling psikoanalisa adalah untuk membantu konseli agar mampu mengoptimalkan fungsi ego sehingga kecemasan atau konflik-konflik intrapsikis mampu ditangani secara realistis dan tidak banyak pada tuntutan nafsu. Menurut Corey (2010:38),tujuan terapi psikoanalisa adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu, dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa,dan menafsirkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak-kanak. Baker dalam (Darmanto:2007) mengemukakan secara khusus tujuan konseling psikoanalisa adalah

  1. Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls danberbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional.
  2. Memahami sifat dan macam-macam mekanisme pertahanan egosehingga lebih efektif, lebih matang, dan lebih dapat diterima.
  3. Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yangakrab dan sehat dengan cara yang menghargai hak-hak pribadi danorang lain.
    1. 2.      Peran Konselor

Peran konselor dalam psikoanalisa adalah :

  1. Membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, danhubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
  2. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan konseli dankemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan danmenafsirkan.
  3. Konselor juga memberikan perhatian kepada resistensi/penyangkalan konseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. Sementara konseli berbicara, konselor berperan mendengarkan dengan penuh perhatian, menganalisis dan menginterpretasikan ungkapan-ungkapan konseli, kemudian memberikan tafsiran-tafsiran terhadap informasi konseli, selain itu konselor juga harus peka terhadap isyarat-isyarat non verbal darikonseli.
  4. Konselor memberikan penjelasan tentang makna proses kepada konseli sehingga konseli mencapai pemahaman terhadap masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara berubah,sehingga konseli mampu mendaptakan kendali yang lebih rasional atashi dupnya sendiri.
    1. 3.      Peran Konseli

Konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Saat proses konseling,konseli bersedia mengemukakan perasaannya, pengalamannya, hubungan-hubungannya, ingatannya dan fantasinya. Produksi verbal konseli merupakan esensi dari kegiatan konseling psikoanalisa. Pada kasus-kasus tertentu konseli diminta secara khusus untuk tidak mengubah gaya hidupnya selama proses konseling. Dalam pelaksanaan konseling psikoanalisis, konseli menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru.

  1. 4.      Situasi Hubungan

Dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu transferensi dan kontratransferensi.

  1. a.      Transferensi

 Transferensi yaitu suatu keadaan yang menggambarkan konseli memproyeksikan karakteristik orang lain (orang tua atau orang lainyang menjadi tokoh identifikasi konseli atau dengan siapa konseli yangpunya masalah) ke dalam diri konselor. Tranferensi merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis membantu konseli untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.

  1. b.       Kontratransferensi

 Yaitu kondisi dimana konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri. Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau keterlibatan yang berlebihan, kondisi ini dapat menghambat kemajuan proses konseling karena konselor akan lebih terfokus pada masalahnya sendiri. Konselor harus menyadariperasaaannya terhadap klien dan mencegah pengaruhnya yang bisamerusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalammenerima kemarahan, cinta, bujukan, kritik, dan emosi-emosi kuatlainnya dari konseli

Tahap – Tahap Konseling

· Persiapan dalam bentuk analisis individu

· Pembentukan rapport melalui mimpifantasi

· Analisis resistensi

· Analisis tranferensi

· Pendalaman

· Reorientasi dan integrasi sosial

Teknik-teknik Konseling :

  1.  Asosiasi bebas adalah teknik dimana konselor meminta konseli untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas konselor adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung didalam ketidaksadaran.
  2. Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas yang prosedurnya terdiri atas tidakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan bahkan mengajari konseli makna tingkah laku. Penafsiran yang diberikan oleh konselor harus sesuai dengan situasi dan kondisi secara tepat, bila tidak tepat saat situasi dan kondisi yang ada, penafsiran tidak akan berjalan.
  3. Analisis Mimpi adalah penyingkapan bahan yang tak disadari dan membarikan pemahaman atas beberapa masalah yang tak terselesaikan.freud memendang bahwa mimpi-mimpi adalah jalan istimewa menuju ketidaksadaran sebab melalui mimpi hasrat-hasrat,kebutuhan –kebutuhan ,dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkapkan.
  4. Analisis dan Penafsiran resistensi yaitu sebagai pertahanan kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalistik dengan menghambat konseli dan analisis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran konseli.
  5. Analisi dan penafsiran Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analaisis transferensi adalah teknik utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong konseli untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. 

Hasil Penelitian Sigmund Frued

Berdasarkan beberapa penelitian ia menyimpulkan bahwa dalm diri manusia kepribadian terdiri atas 3 komponen utama yaitu Das es, das ich, das Uber Ich istilah lainnya id, ego, super ego. Untuk memudahkan pemahaman, id artinya nafsu atau dorongan-dorongan kenikmatan yang harus dipuaskan, bersifat alamiah pada manusia. Ego sebagai kemampuan otak atau akal yang membimbing manusia untuk mencari jalan keluar terhadap masalah melalui penalarannya. Super Ego sebagai norma, aturan, agama, norma social.

Kelemahan dan kelebihan teori Sigmund Frued

Keterbatasan dari pendekatan ini adalah:

  1. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahka martabat kemanusiaan.
  2. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak danmenganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Halini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individuberkurang.
  3. Cenderung meminimalkan rasionalitas.
  4. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dankonsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yangmenentukan tingkah laku manusia.

Kelebihan dari pendekatan ini adalah:

  1. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapatmemahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia.
  2. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atasmimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
  3. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangkakonseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahamisumber-sumber dan fungsi simptomatologi.

 

BAB III

PENUTUP

  1. 1.      KESIMPULAN

Jadi hakikat manusia menurut Sigmun Freud adalah : Manusia pada dasarnya Deterministik. Manusia berisi sistem energi energi Psikis dasar manusia disebut libido. Struktur kepribadian adalah ID, Ego, Super Ego. Periode Perkembangan Psikoseksual Fase Oral (0 – 1 tahun) Fase Anal (1– 3 tahun) Fase Phalic (3 – 5 tahun) Fase Laten (6 – 12 tahun) Fase Genital (12 tahun ke atas) teknik dasar dalamkonseling psikoanalisis (Corey, 2010:42), yaitu Asosiasi bebas, Interpretasi (Penafsiran), Analisis mimpi, Analisis resistensi, Analisis transferensi. Tujuan Secara umum konseling psikoanalisa adalah untuk membantu konseli agar mampu mengoptimalkan fungsi ego sehinggakecemasan atau konflik-konflik intrapsikis mampu ditangani secararealistis dan tidak banyak pada tuntutan nafsu. Peran konselor dalam psikoanalisa adalah membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri konselor membangun hubungan kerja sama dengan konseli dankemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan danmenafsirkan, konselor juga memberikan perhatian kepada resistensi/penyangkalankonseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpandalam ketidaksadara, konselor memberikan penjelasan tentang makna proses kepadakonseli sehingga konseli mencapai pemahaman terhadap masalahnyasendiri Peran konseli adalah konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Situasi Hubungan ada 2 yaitu Transferensi dan  Kontratransferensi. Tahap – Tahap Konseling diantaranya persiapan dalam bentuk analisis individu, pembentukan rapport melalui mimpifantasi, analisis resistensi, analisis tranferensi, pendalaman reorientasi dan integrasi sosial. Teknik-teknik Konseling asosiasi bebas penafsiran, analisis mimpi, analisis dan penafsiran resistensi, analisi dan penafsiran transferensi. Hasil Penelitian Sigmund Frued ialah id, ego, super ego. Kelemahan dan kelebihan teori Sigmund Frued Kelemahan dan kelebihan teori Sigmund Frued Keterbatasan dari pendekatan ini adalah Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahka martabat kemanusiaan. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak danmenganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Halini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individuberkurang. Cenderung meminimalkan rasionalitas. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dankonsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yangmenentukan tingkah laku manusia. Kelebihan dari pendekatan ini adalah: Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapatmemahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atasmimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangkakonseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahamisumber-sumber dan fungsi simptomatologi.

  1. 2.      Saran

Mungkin jika di teliti lebih dari sudut pandang yang berbeda akan muncul kesimpulan lain dan lebih baik. Namun untuk saat ini kami susdah merasa cukup. Dan apabila muncul pemikiran pemikiran yang lebih baik dalam pembahsan ini kami akan lakukan perubahan yang lebih baik pada pembahsan nanti.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://budifilo.wordpress.com teori dan terapi psikoanalilisaGambar

;http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/bimbingan-konseling-islam.html di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

http://ulankeyla.blogspot.com/2011/07/teori-konseling-psikoanalisis-by.html di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

http://ml.scribd.com/doc/91907837/PENDEKATAN-PSIKOANALISIS di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=87:pendekatan-konseling-psikoanalisis&catid=1:latest-news&Itemid=75 di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Teori konseling psikoanalisa

  1. Pingback: Sindy Arsita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s