Artefak

BAB I

PENDAHULUAN

  1. I.                   Latar Belakang

Menurut J.J. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 1986), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

1. Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

2. Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

3. Artefak (karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

  1. II.                Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud  dengan artefak?
    2. Apa yang di sebut candi?
    3. Apa sajakah jenis candi di Indonesia?
    4. Apa fungsi candi hindu budha di indonesia?
  2. III.                Tujuan
    1. Mengetahui pengertian artefak  
    2. Mengetahui pengertian tentang candi
    3. Dapat menyebutkan jenis candi di indonesia
    4. Mengetahui  fungsi candi hindu budha di Indonesia

BAB II

PEMBAHASAN

Artefak dalam arkeologi mengandung pengertian benda (atau bahan alam) yang jelas dibuat oleh (tangan) manusia atau jelas menampakkan (observable) adanya jejak-jejak buatan manusia padanya (bukan benda alamiah semata) melalui teknologi pengurangan maupun teknologi penambahan pada benda alam tersebut.

Atefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Ada benda benda yang sangat besar seperti pabrik baja, ada juga benda benda yang sangat kompleks dan canggaih, seperti computer berkapasitas tinggi, atau benda benda yang besar dan bergerak seperti kapal tangki minyak atau bangunan hasil seni arsitek seperti sebuah candi yang indah. Kita tidak akan menguraikan contoh diatas satu peratu namun kita akan menyinggung tentang candi.

 

  1. 1.      Candi

Candi secara diduga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai dewi kematian. Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen tempat pedharmaan untuk memuliakan raja anumerta (yang sudah meninggal) contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapat. Akan tetapi, istilah ‘candi’ tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala non-religius dari masa Hindu-Buddha Indonesia klasik, baik sebagai istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.

Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban HinduBuddha. Bangunan ini digunakan seba gai tempat pemujaan dewa-dewi ataupun memuliakan Buddha.

Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya. Kesepakatan di dunia arkeologi adalah menamai candi itu berdasarkan nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang sudah diketahui masyarakat sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda yang terkait dengannya.

  1. 2.      Jenis candi di indonesia

Di Indonesia, candi dapat ditemukan di pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan, akan tetapi candi paling banyak ditemukan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kebanyakan orang Indonesia mengetahui adanya candi-candi di Indonesia yang termasyhur seperti Borobudur, Prambanan, dan Mendut.

  1. Candi Hindu, yaitu candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu, contoh: candi Prambanan, candi Gebang, kelompok candi Dieng, candi Gedong Songo, candi Panataran, dan candi Cangkuang.
  2. Candi Buddha, candi yang berfungsi untuk pemuliaan Buddha atau keperluan bhiksu sanggha, contoh candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibo, candi Sumberawan, candi Jabung, kelompok candi Muaro Jambi, candi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal.

 

  1. 3.      fungsi candi di Indonesia

Fungsi candi sangatlah luas, diantaranya adalah:

  1. Candi sebagai Pemujaan: candi Hindu yang paling umum, dibangun untuk memuja dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu, contoh: candi Prambanan, candi Canggal, candi Sambisari, dan candi Ijo yang menyimpan lingga dan dipersembahkan utamanya untuk Siwa, candi Kalasan dibangun untuk memuliakan Dewi Tara, sedangkan candi Sewu untuk memuja Manjusri.
  2. Candi sebagai Stupa: didirikan sebagai lambang Budha atau menyimpan relik buddhis, atau sarana ziarah agama Buddha. Secara tradisional stupa digunakan untuk menyimpan relikui buddhis seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau bhiksu Buddha terkemuka, atau keluarga kerajaan penganut Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai sarana ziarah dan ritual, contoh: candi Borobudur, candi Sumberawan, dan candi Muara Takus
  3. Candi sebagai Pedharmaan: sama dengan kategori candi pribadi, yakni candi yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal. Candi ini kadang berfungsi sebagai candi pemujaan juga karena arwah raja yang telah meninggal seringkali dianggap bersatu dengan dewa perwujudannya, contoh: candi Belahan tempat Airlangga dicandikan, arca perwujudannya adalah sebagai Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara.
  4. Candi sebagai Pertapaan: didirikan di lereng-lereng gunung tempat bertapa, contoh: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, kelompok candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain berfungsi sebagai pemujaan, juga merupakan tempat pertapaan sekaligus situs permukiman.
  5. Candi sebagai Wihara: didirikan untuk tempat para biksu atau pendeta tinggal dan bersemadi, candi seperti ini memiliki fungsi sebagai permukiman atau asrama, contoh: candi Sari dan Plaosan
  6. Candi sebagai Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contoh: gerbang di kompleks Ratu Boko, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan candi Plumbangan.
  7. Candi sebagai Petirtaan: didirikan didekat sumber air atau di tengah kolam dan fungsinya sebagai pemandian, contoh: Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. I.                   Simpulan

Jadi menurut kami Atefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban HinduBuddha. Bangunan ini digunakan seba gai tempat pemujaan dewa-dewi ataupun memuliakan Buddha. Jenis candi di Indonesia, Candi Hindu, yaitu candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu, contoh: candi Prambanan, candi Gebang, kelompok candi Dieng, candi Gedong Songo, candi Panataran, dan candi Cangkuang. Candi Buddha, candi yang berfungsi untuk pemuliaan Buddha atau keperluan bhiksu sanggha, contoh candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibo, candi Sumberawan, candi Jabung, kelompok candi Muaro Jambi, candi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal. Fungsi candi adalah Candi sebagai Pemujaan, Candi sebagai Stupa, Candi sebagai Pedharmaan, Candi sebagai Pertapaan, Candi sebagai Wihara, Candi sebagai Gerbang, Candi sebagai Petirtaan.

  1. II.                Saran

Mungkin jika di teliti lebih dari sudut pandang yang berbeda akan muncul kesimpulan lain dan lebih baik. Namun untuk saat ini kami susdah merasa cukup. Dan apabila muncul pemikiran pemikiran yang lebih baik dalam pembahsan ini kami akan lakukan perubahan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com Keyword “candi hindu budha di Indonesia” terakkir di unduh tanggal 10 april 2012

www.google.com Keyword “fungsi candi hindu budha di Indonesia” terakkir di unduh tanggal 10 april 2012

www.google.com Keyword “wujud kebudayaan” terakkir di unduh tanggal 10 april 2012

 budifilo.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

pengertian kepemimpinan

  1. Pengertian pemimpin

Pemimpin dalam bahasa ingris di sebut Leader dari asal kata “to Lead” dan dalm istilah islam di sebut “kholifah”. Dalam istilah pemimpin dapat diartikan orang yang memiliki bawahan, sukses atau tidaknya suatu organisai tergantung atas cara cara kepimimpinan yang dianutnya.

  1. Lahirnya Seorang pemimpin

Lahirnya seorang  terdapat banyak pendapat yang berbeda, yang disebabkan oleh  totok tolak pandangan para ahli yang berbeda beda. Dari sekian teori ada 3 yang menonjol dari sudut pandang dan pengaruh lingkungan dan pendidikan.

Ketiga teori  itu adalah:

  1. TEORI GENESIS

Ajaran teori berasal dari kata “leader are born and not made”  leader itu adalah bawaan lahir, bukan melalui proses . menurut teori ini seseorang bisa menjadi pemimpin apabila ia mempunyai bakat pemimpin sejak lahir dan tidak dapat diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan.

 

  1. TEORI SOSIAL

Mereka yang menganut teori ini berangapan bahwa pemimpin itu mungkin muncul hanya melalui proses pembentukan yaitu dari pengalaman dan pendidikan  yang iya peroleh. Bakat tidak mempunyai arti sama sekali untuk melahirkan seorang pemimpin. Ajarannya tesusun dalam kalimat “ leader are made and not born”.

 

  1. TEORI EKOLOGI

Teori ini adalah Perpaduan dari teori sosial dan genesis. Terori ini mempunyai ajaran “ leader are made and born” disini ada dua faktor dasar yang kuat yaitu faktor pengalaman dan bawaan dari lahir sehingga jika ada pemimpin yang seperti ini pasti akan tagguh dalam hal yang ia bawahi atau pimpin.

 

  1. Syarat syarat seorang pemimpin
    1. Menguasai ilmu yang memadai
    2. Memiliki kemapuan dan kemampuan dan keilmuan untuk menerapkan ketrampilan dan bakat pemimpinya.
    3. Memiliki kondisi rohani dan jasmani yang sehat.
    4. Berwawasan luas dan memperhitungkan langkah kedepanya.
    5. Berani mengambil resiko.
    6. Berada pada situasi yang tepat.
    7. Mendapat dukungan dari pengikut.

 

  1. Tugas pemimpin

Tugas utam seorang pemimpin adalah mengambil keputusan segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi, mengambil keputusan sebaiknya di putuskan bersama bukan karena kepentingan pribadi atau kebetulan. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka semakin besar bobot  keputusan itu akan diambil.

  1. Gaya kepemipinan

Seorang pemimpin adalah manusia, maka segala yang menjadi kebijakanya haruslah manusiawi, sehingga apabila dilakukan maka masing masing individu akan kompak menurut garis kerja pada bidangnya masing masing.

Dibawah ini ada beberapa macam teori tentang kepemimpinan antara lain:

  1. Kepemimpinan Otokratik             : menonjol ke-Aku-an/diktator
  2. Kepemimpinan Militeristik           : displin kaku, formal dan keras serta suka

 upacara formal.

  1. Kepmimpinan Demokratik            : mengutamakan permusyawaratan
  2. Kepemimpinan Kharismatik         : kewibawaan alami, biyasanya mengunakan

 kata kata cerdas untuk mempengaruhi.

  1. Konsep Kepemimpinan di Indonesia ( Ki Hajar Dewantara)
    1. Ing Ngarso Sung Thulodho          : di depan memberi petunjuk
    2. Ing Madyo Mangun Karso           : di tengah memberikan dukungan
    3. Tut Wuri Handayani                     : di belakang memberikan dukungan 
Posted in Uncategorized | Leave a comment

metode penelitian

Link | Posted on by | Leave a comment

Konseling Lintas Budaya

DASAR-DARAS KONSELING LINTAS BUDAYA

 

BAB I

BIMBINGAN KONSELING DAN KEBUDAYAAN

 

Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bentuk pelayanan kemanusiaan, sebab BK hanya diberikan oleh dan untuk manusia. Layanan BK bertujuan untuk membangun manusia yang utuh, sebagai makhluk pribadi, sosial dan makhluk Tuhan ( Prayetno,1994). Manusia sebagai subjek dan objek layanan BK adalah makhluk yang berbudaya, bahkan mereka pencipta, pemakai dan pengembang budaya.

 

A.    Dinamika Masyarakat dan Transformasi Kebudayaan

Undang-undang No.2 tahun 1989  pasal 1 menyebut bahwa bimbingan konseling salah satu bentuk pendidikan. Mortensen dan Schemuller (1976) Tohari Musnamar (1986) Tijjan dkk.(1993) menyatakan bahwa bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dalam sistem pendidikan .meskipun bimbingan konseling merupakan bagian yang integral dalam pendidikan, dalam konteks layanan profesional, tidak semua usaha pendidikan dapat di sebut bimbingan konseling.

Berbagai rumusan tentang pendidikan secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan sebenarnya adalah proses pembudayaan. Ali Saifullah (1982) menyatakan bahwa “pendidikan adalah gejala kebudayaan yang mengandung arti bahwa pendidikan hanya diadakan dan dilaksanakan olehmakhluk berbudaya”.

Dari uraian di atas dapat di kemukakan hubungan antara bimbingan konseling dengan kebudayaan adalah bimbingan dan konseling merupakan gejala kebudayaan yang diselenggarakan oleh manusia (makhluk yang berbudaya).

 

B.     Kebudayaan Latar Konseling Lintas Budaya

Yang di maksud dengan kebudayaan bimbingan dan konseling (guidance and counseling culture) adalah gagasan konsep, yang mendasari praksis bimbingan konseling. Kebudayaan BK merupakan suatu gagasan,konsep,sseperti kegiatan/praktek bimbingan dan konseling yang berkembang dalam masyarakat sebagai produk budaya.

Sebagai aspek dari keseluruhan kebudayaan,maka kebudayaan BK mengandung dimensi-dimensi temporal dan sepasial. Dimensi temporal artinya Kebudayan BK waktu, sedang dimensi sepesial artinya kebudayaan BK dapat berbeda dari stu tempat atau wilayah dengan tempat lain,tergantung dari kebudayaan masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarakat kelompok budaya dalam suwaktu waktu,akan akan memiliki suatu budaya BK, yang sering kali tidak sama.

 

C.    Bimbingan Konseling Kebudayaan

Berbagai rumusan pendidikan lama menekankan pendidikan sebagai kegiatan mewariska nilai genarasi lama dengan generasi baru,baik nilai inlektual, moral, sosila, estetika dan sebagainya, yang kesemuaanya itu merupakan kebudayaan manusia. Meskipun pendidikan bukan semata memiliki fungsi transformasi, tetapi juga memiliki fungsi kreasi atau dengan istilah  Ali Saigfullah (1983) menyebut bersifat reflektif dan progresif.

Jones, Staffler dan Stewert (1970),Muh. Surya(1988) Prayitno dan Erman Amit(1994) Depdikbud(1994)menunjukan ada beberapa unsur diantaranya adalah membantu orang yang di bimbing mengatasi masalah, menyesuaikan diri, mengembangkan diri, sesuai dengan norma-norma yang berlaku, merencana masa depan.

Sebagai bagian usaha pendidikan, maka BK memiliki fungsi transfomasi dan kreasi kebudayaan.fungsi transformasi terlihat dala pelayanan BK  yang membantu subjek yang di bimbing dapat mengatasi masalah,menyesuaikan diri, atau berperilaku sesuai dengan budaya( nilai,norma,tata hubungan) yang ada dalam masyarakat.fungsi kreasi kebudayaan terlihat dalam budaya BK yang membantu aktualisasi dan optimalisasi seluruh potensi subjek bimbingan perencanaan masa depan.

 

BAB II

KONSEP KONSELING LINTAS BUDAYA

 

A.    DINAMIKA MASYARAKAT DAN TRANSFORMASI KEBUDAYAAN

Muhtar Bukhori (2001) menyatakan ada tiga hal yang penting yang perlu di perhatikan dalam pelayanan bimbingan dewasa ini, yaitu bimbingan dalam teknik-teknik belajar, bimbingan untuk mengenali kesempatan kerja dan perguruan tinggi, serta bimbingan transformasi sosio-kultural.

Melihat adanya dinamika yang terjadi dalam masyarakat dan transformasi budaya tersebut, maka konseling lintas budaya atau konseling multi budaya (counseling a cross culture) menjadi nyata relevansi dan urgensinya untuk di terapkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling.

 

B.     LATAR BELAKANG KONSELING LINTAS BUDAYA

Berbagai peristiwa sejarah pembentukan masyarakat atau negara (misalnya kolnial), berbagai bentuk dan alasaaaaaaaan imigrasi, kemajuan teknologi komunikasi, menjadikan masyarakat harus hidup dalam keragaman budaya ( multikultural). Kesadaran akan keragaman tersebut semakin kuat dengan terbagunya masyarakat madani (civil society).

Adanya keragaman budaya merupakan realitas hidup bersama yang tidak dapat di pungkiri. Setiap kebudayaan menurut Kuncaraningrat (1985) mengandung tiga sistem yaitu.

1.      Sistem budaya (bidaya nilai)

2.      Sistem sosial

3.      Kebudayaan fisik

Selusuh unsur budaya akan meliputi berbagai konsep dan asosiasi, sikap kepercayaan, harapan, pendapat, presepesi, streotipe dan sebagainya.

Konsleing yang tidak mempertimbangkan budaya klien yang berbeda akan merugikan klien. Dalam hal ini  Sue (1992:6) menyatakan “konseling telah di gunakan sebagai alat untuk menindas (menekan) dan didesain untuk menanamkan nuilai-nilai budaya individulistik. Tradisi konseling telah mengabaikan kelompok minoritas dan para wanita. Konseling telah mnejadi alat untuk mempertahankan status quo”.

Dalam konseling ada dua komponen pokok yang terlibat, yaitu klien dan konselor.Ivey dkk (1993:127) mengemukakan model hubungan klien dan konselor yaitu:

Client

 

Counselor

 

Client culture /

Historical background

 

Conselor cultureal /

Historial background

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Model hubungan konselor dan klien

Hubungan klien dan konselor dalam proses konseling selalu di pengaruhi oleh budaya dan latar belakang sejarah klien dan budaya dan latar belakang sejarah konselor.

Kebudayaan yang bersumber

dari teori yang digunakan

 

Konselor dengan latar

Belakang budaya

 

Klien dengan latar

Belakan budaya

 

Lingkungan kebudayaan

dimana konseling dilaksanakan

 

Budaya proses

konseling

 

 

Gambar 2. Sistem budaya yang terlibat dalam konseling

Keseluruhan komponen tersebut menuju proses konseling, termasuk merumuskan tujuan konseling yang di sepakati.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan latar belakang perlunya konseling lintas budaya, yaitu:

1.      Adanya kecenderungan budaya global dan transformasi budaya, diman kehidupan masyarakat semakin terdiri dari berbagai budaya yang selalu berinteraksi dan berubah.

2.      Bahwa setiapbuadaya akan membentuk pola kepribadian,pola bertingkah laku secara khusus, termasuk dalam proses konseling.

3.      Adanya proses akulturasi atau percampuran antara budaya.

4.      Adanya berbagai keterbatasan, hambatan dalam praktek konseling yang selama ini dilakukan, terutama perdekatan psikodinamik, behaviorioristik, eksistensihumanistik, yang kurang mempertimbangkan aspek budaya.

5.      Adanya berbagai pendekatan konseling yang bersumber dari nilai-nilai budaya asli masyarakat (indegineous value), dan berkembang dalam praktik konseling di masyarakat.

C.    Pengertian Konseling Lintas Budaya

Persiden (1990),Ive dkk,(1993) menyebut bahwa konseling lintas budaya merupakan “fourt force” atau kekuatan keempat dalam gerakan konseling, yaitu setelah gerakan psikodinamik (freud, Yung,Adler,From dkk),

Istilah konseling lintas budaya merupakan panduan dari dua istilah yaitu konseling dalam lintas budaya. Secara singkat konseling lintas budaya diartikan konseling yang dilakukan dalam budaya yang berbeda.

Ada beberapa elmen yang sama dalam mendefinisikan koseling. Kesemamaan yang di maksud yang di maksud adalah :

1.      Konseling adalah hubungan peribadi

2.      Konseling adalah suatu proses

3.      Konseling di rancang untuk membantu indifidu membuat keputusan dan memecahkan masalah

4.      Dan dalam konseling terlibat dua orang atau lebih yang ada di dalamnya, yaitu konselor dan klien.

Ahli lain menyatakan bahwa konseling lintas budaya adalah konseling yang diberikan kepada mereka yang sama budayanya dengan konselor, tetapi mereka memiliki peran yang berbeda, misal kaum homo seksual, penyandang cacat, para orang tua, wanita dan sebagainya.

            Definisi konseling yang lebih akhir menyatakan bimbingan konselig lintas budaya terjadi apabila suatuproses konseling terdapat perbedaan-perbedaan budaya antara konselor dengan klien.

            Asumsi dasar konseling lintas budaya adalah bahwa individu yang terlibat dalam konseling itu hidup dan dan di bentuk oleh lingkungan budaya, baik keluarga maupun masyarakat. Dalam hal ini Ivey dkk.(1995:5) mengemukakan “ masalah –masalah individu dan keluarga seringkali bersumber dari faktor lingkungan atau luar, seperti kemiskinan, ras, jenis kelamin, dan sebagainya.

            Dengan uraian diatas dapat di kemukakan definisi konseling lintas budaya yaitu “suatu proses konseling yang melibatkan antara konselor san klien yang berbeda budayanya,dan dilakukan dengan memperhatikan budaya subyek yang terlibat dalam konseling”.

 

 

 

 

BAB III

ASAS,PRINSIP DAN HAMBATAN KONSELING LINTAS BUDAYA

 

Agar layanan konseling lintas budaya efektifitas dan efisien sehingga berfungsi secara optimal, maka layanan konseling lintsas budaya harus diselenggarakan berdasarkan suatu tumpuan berfikir yang disebut asas layanan dan berpedoman pada prinsip-prinsip lainya, yang merupakan kajian teori dan telah lapangan mengenai konseling lintas budaya , serta memahami berbagai hambatan-hambatan dalam layanan konseling lintas budaya.

A.    Asas-asas Konseling Lintas Budaya

Layanan konseling lintas budaya merupakan layanan profesional, maka harus dilaksanakan dengan mengikuti  kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan, kondisi masyarakat dengan beragam latar belakang budaya, dan tuntutan optimal proses penyelenggaraan lainya. Kaidah-kaidah tersebut disebut asas-asas layanan.

Terdapat sejumlah asas l;ayanan bimbingan dan konseling, yaitu:

1.      Asas kerahasiaan

2.      Asas kesukarelaan

3.      Asas keterbukaan

4.      Asas kegiatan

5.      Asas kemandirian

6.      Asas kekinian

7.      Asas keterpaduan

8.      Asas kedinamisan

9.      Asas kenormatifan

10.  Asas keahlian

11.  Asas alih tangan

B.     Prinsip-Prinsip Konseling Lintas Budaya

Sebgai gerakan keempat dalam konseling yang relatif masih baru, maka prinsip-prinsip konseling lintas budaya banyak yang bersifat hipotesis, berupa pemikiran, dan masih terus berkembang.

            Dragum (1996) mencatat sejumlah kesepakatan dari para prfaktisi,peneliti, dan ahli-ahli teori tentang prinsip-prinsip konseliing lintas budaya adalah :

1)      Teknik atau aktifitas para konselor semakin berubah,

2)      Permasalahan dalam proses konseling akan cenderung meningkat,

3)      Permasalahan atau problem,

4)      Norma, harapan prilaku setress memiliki keragaman antara kebudayaan.

5)      Konsep-konsep konseling dan pola-pola membantuperkaitan dengan suatu kebudayaan.

 

 

 

C.    Permasalahan Konseling  Lintas Budaya

Prayetno dan Erman Amati (1994) mengutip Pedersen dkk, yang mengetengahkan yang lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi non ferbal, stereotip, kecenderungan menilai, dan kecemasan. Presepei atau pandangan yang terpola (stereotipe) menyebabkan orang memandang orang lain menurut kemauanya diri sendiri atau berdasar asumsi-asumsi yang sudah tertanam pada dirinya. Kecenderungan menilai seringkali didasarkan pada setandar subyektif. Kecemasan sering muncul karena seseorang harus berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda budayanya.

Sue (1981:1) mencatat tiga hal yang menjadi sumber hambata atau kegagalan konseling lintas budaya, yaitu :

1.      Program pendidikan dan latihan konselor

2.      Literatur koneling dan kesehatan mental

3.      Proses dan praktek

Di samping aspek-aspek diatas,Sue (1981:28) juga mencatat tiga hambatan konseling linyas budaya, yaitu:

1.      Hambatan bahasa

2.      Hambatan kelas, setatus antara konselor dan klien

3.      Hambatan perbedaa nilai budaya antara konselor dengan klien

1.      Isu etic dan emic

Pendekatan etic melibatkan penelitian yang berasal dari budaya tertentu. Pendekatan emic mengacu pada pandangan bahwa data penelitian konseling lintas budaya harus dilihat dari sudut pandang budaya subyek yang diteliti,atau budaya asli dan uniks.

            Dikotimoi etic dan emic merupakan perbedaan cara mendeskripsikan suatu kebudayaan, dipandang dari dalam budaya klien atau dari luar budaya klien. Isu ini sering menjadi perdebatan karena pada akhirnya berkaitan dengan hubungan konselor-klien.

2.      Isu hubungan konseling-klien versus teknik-teknik konseling

Para ahli konseling cenderung memberikan pernyataan yang sifatnya umum sebagai berikut : konselor perlu penyiapan diri untuk mengadaptasi teknik-teknik konseling sesuai dengan latar budaya klien, menggunakan tehnik-tehnik acceptance dan attending sesuai dengan latar budaya klien, serta terbuka terhadap semua kemungkinanuntuk melakukan interfensi langsung terhadap kehidupan klien. Dengan demikian konseling lintas budaya lebih merupakan pengadaptasian tehnik-tehnik yang dipakai konselor sesuai dengan latar belakang budaya klien.

3.      Isu hubungan bilateral antara konselor-klien

Hubungan bilateral yang dimaksud adalah hubungan hubungak konselor denagn klien yang mengacu pada tingkat proses belajar dalam konseling yang mempengaruhi dengan konselor maupun klien.

 

4.      Isu dilema autoplastic-alloplastic

Konsep autoplastic mengacu pad bagaimana mengakomodasikan seseorang pada suatu latar dan setruktur sosial yang bersifat given( jadi). Konsep alloplastic mengacu pada pembentukan relatif eksternal yang sesuai dengan tujuan proses konseling, karena konsep-konsep tersebut berkaitan dengan pertanyaan seberapa jauh konselor dapat membantu klien  beradaptasi dengan realitas yang ada, dan seberapa jauh konselor dapat mendorong terbentuknay realita yang sama dengan realiatas yang ada pada diri konselor.

Beberapa sumber konflik dan salah interpretasi dalam konseling sering terjadi dalam konseling lintas budaya, mengingat konselor umumnya masih mengacu pada teori konseling yang bersumber dari Amerika-Eropa. Sumber konflik da salah iterpretasi tersebut antara lain :

1.      Adapun upaya menyatukan klien kebudaya klien ke budaya yang dominan yang dimiliki konselor.

2.      Berpusat pada individu. Padahal budaya merupakan identitas seseorang yang tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya.

3.      Konselor menghindari agar klien mau mengekspresikan perasaan melalui bahasa dan tingkah laku, seperti assertifve, punya pendirian tidak pasif.

4.      Pengguna insight atau pencerahan dalam konseling didasarkan pada asumsi bahwa klien mencapai insight pada dirinya sendiri akan dapat menyesuaikan  diri dengan baik.

5.      Sebagian besar konseling menginginkan keterbukaan dan kekariban yaitu klien yang mau terbuka dan berbicara tentang aspek-asoek kehidupan dirinya.

6.      Pola komunikas dalam konseling umumnya menhendaki komunikasi yang bergerak dari klien ke konselor, atau klien lebih aktif.

7.      Hambatan bahasa. Di Ameriak umunya di guinakan Inggris bahasa yang baku. Oleh karena itu kelompok minoritas yang belum menguasai bahasa Inggris dengan baik, dalam dalam konseling akan mengalami hambatan.

 

BAB IV

DIMENSI BUDAYA DALAM KONSELING LINTAS BUDAYA

 

A.    Sistem Budaya dan Bimbingan Konseling

1.      Sistem kebudayaan

a.       Sistem kebudayaan atau nilai budaya

Berisi kompleksi ide-ide, gagasan, konsep dan pikiran manusia yang menjadi sumber inspirasi dan orientasi dalam menghadapi kehidupan. Orientasi atau pandangan ini mengkristal kuat sebagai jiwa dari masyarakat tertentu. Gagasan ini berkait satu sama lain menjadi suatub sistem yang berpola. Sistem budaya ini mengatur dan memberi arah kepada sekelompok masyarakat dalam menghadaipimasalah-masalah kehidupan.nilai budaya ini menyangkut pandangan tentang kebenaran, kebaikan , keindahan,kenyataan dan sebagainya. Dalam hal ini kluckohn( kuncaradiningrat,1990;Sulaiman) mengemukakan empat orientasi nilai budayayaitu :

1.      Hakikat hidup manusia.

2.      Hakikat waktu

3.      Hakikat karya

4.      Hakikat hubungan semua manusia

5.      Hakikat hubungan manusia dan alam

 

b.      Sistem sosial

Yaitu tidak berpola yang terdiri dari pola aktifitas–aktifitas manusia yang saling berinteraksi (berhubungan) serta bergaul satu sama lain dari waktu ke waktu, yang menetap dalam bentuk adat tata perilaku.

c.       Kebudayaan Fisisk

Merupakan hasil karya manusia yang bersifat fisik, konkrit, dapat berbentuk benda-benda yang dapat diraba.

2.      Dimensi-dimensi bimbingan dan konseling

Morril, Oetting,dan Hurs (dalam Ivey, Lyn Simek,1980) melihat BK dalam tiga dimensi yang di gambarkan dalam suatu kubus, yaitu :

a.      Target of intervention (individual,primary group,associational group,dan community group)

b.      Purpos of intervention (remidiation,perevention, dan develmedia)

c.       Method of intervention (direct service, consulation/training, media)

Tohari Musnamar (1986) mengetengahkan sepuluh komponen dalam sisitem BK, yaitu:

a.       Sistem konsep dasar

b.      Sistem pembimbingan

c.       Subyek-subyek yang dibimbing

d.      Subsistem metode dan tehnik

e.       Subsistem strategi

f.       Subsistemadministrasi dan organisasi

g.      Subsistem pelayanan

h.      Subsistem saran dan biaya

i.        Subsistem lingkungan

j.        Subsistem usaha pengembangan

 

B.     Dimensi Budaya dalam Konseling

Inti pelayanan bimbingan dan konseling adalah “komunikasi” antara konselor dan klien. Dalam komunikasi tersebut melibatkan seluruh kepribadian klien dan konselor, dimana kepribadian tersebut merupakan produk dari budayanya.

1.      Budaya akan memberikan warna dan arah bagi subsistem konsep dasar BK, yang mencakup landasan filosofik,tujuan konseling,prinsip dan asas BK,serta kode etik BK.

2.      Budaya memeberikan warna terhadap subsistem pembimbingan baik yang berkaitan dengan kualifikasi pendidikan dan latihan, penempatan bimbingan.

3.      Budaya akan memberikan warna bagi subsistem subyek yang dibimbing.

4.      Budaya juga menentukan dan mewarnai metode memahami individu-individu, dan metode/tehnik bimbingan konseling.

5.      Budaya akan memberikan arah bagi program-program BK.

6.      Budaya menentukan sistem administrasi dan organisasi BK.

7.      Budaya juga menentukan sistem sarana,prasaran dan biaya.

8.      Budaya menentukan sistem proses layanan.

9.      Budaya mewarnai subsistem lingkungan konseling.

10.  Budaya juga mempengaruhi dan mewarnai sistem pengembangan bimbingan dan konseling.

Landrine (1992)membedakan adanya reffential self and indexial self,

1.       Reffential self adfalah self atau diri yang sendiri,mandiri asli,kreatif dapat mengontrol perilaku, menentukan diri, pikira,self yang terbungkus dalam budaya barat.

2.      Indexial self yaitu self atau diri pribadi yang kurang mandiri, kurang dapat mengontrol diri, jiwanya lemah dan kering, kirang kreatif, mudah dipengaruhi.

Hofstede dari Belanda (dalam dragum 1996,Bery dkk,1999) mengidentifikasikan empat faktor dimensi pola pribadi atau pola hidup manusia, yaitu:

1.      Individualisme menunjukan kecondongan seseorang terhadap diri sendiri, yang memiliki kesungguhan, berusaha atau mampu mencapai tujuan, merealisasikan hidupnya sendiri.

2.      Power distance merupakan konsep yang menunjukan ketidaksamaan atau jurang pemisah ( suatu tatanan berjinjang) antara atasan dan bawahan dalam suatu organisasi, atau antara perasaan superior dan interior.

3.      Uncerainty avoidance atau penghindaran akan ketidakmenentuan merupakan konsep yang menunjukan tingkat kebutuhan seseorang akan setruktur,aturan, norma, petunjuk atau informasi untuk mengantisipasi kehidupan yang kompleks, yang sulit diprediksi.

4.      Masculinity dan feminity, menunjukan pola kepribadian atau kebudayaan yang membedakan peran antara laki-lak dan permpuan.

 

1.      Variabel konselor

Konselor juga membawa karakteristik kompetensi profesional sebagai konselor, seperti budaya profesi yang mencakup asumsi-asumsi, keyakinan, nilai sikap-sikap profesi, keterampilan-keterampilan profesi dan sebagainya.

2.      Variabel klien

Sebagaimana konselor klien juga membawa seperangkat karakteristik, baik persoanl-sosio-kultural dan pengalaman hidup. Beberapa aspek  personal-soso-kultural yaitu: aspek biologis (jender, ras, prefensi seksual)budaya (asumsi-asumsi, keyakinan, nilai sikap) gaya kongninitif ( proses penerimaan, informasi berfikir,stereotype),bakat, kecakapan, minat, harapan, perilaku.

 

3.      Veriabel proses konseling

Dalam proses konseling terlibat dua fihak yaitu klien dan konselor, yang saling beriteraksi untuk mencapai suatu tujuan.

 

BAB V

KONSELOR DALAM KONSELING LINTAS BUDAYA

 

A.    Pendahuluan

Ketidak efektifan konseling lintas budaya dapat disebabkan oleh faktor konselor , yaitu konselor yang tidak memperoleh pendidikan/latihan dan pengalaman tentang konseling lintas budaya (Ivey,1981) konseling yang terkukung dalam budayanya sendiri (cultural encapsulation) dan yakin tidak memiliki kesadaran/kepekaan budaya.

B.     Karakteristik Umum

Karakteristik konselor dalam konseling lintas budaya secara umum sama dengan konselor pada umumnya, yang harus memiliki kompetensi profesional dan profesional.

 

1.      Kerdibilitas konselor

Kerdibility mencakup arah set problem solving, consistency dan identifikation, yang diartikan sebagai seperangkat karakteristik yang menjadi individual yang layak untuk dipercaya, mampu, reliabel dan dihormati. Oleh karena itu dalam kerdibilitasi terkandung dua hal yaitu persepasi dan sifat-sifat komunikator.

Dalam kerdibilitasi  terkandung dua unsur penting yaitu keahlian (expertnss) dan sifat yang dapat dipercaya (trutstworthiness).

2.      Daya tari konselor (attractiveness)

Atraksi merupakan kesukaan atau sikap positif dan dan daya tarik seseorang.

a.       Faktor personal yang mempengaruhi daya tarik konselor

1)      Kesamaan karakteristik personal

2)      Tekanan emosi

3)      Hargadiri yang rendah

4)      Isolasi sosial

 

 

b.      Faktor situalisonal

Banyak faktor situasional yang mempengaruhi atrasiseperty:

a)      Daya tarik fisik

b)      Ganjaran yaitu cenderung menyenangi terhadap orang yang memberikan ganjaran, pujian,bantuan, dukungan atau hal-hal yang menyenangkan.

c)      Familiarity, yaitu orang yang cenderung menyenangi terhadap orang yang sudah dikenal.

d)     Kedekatan (proximinity)

e)      Kemampuan (competence)

 

3.      Kekuasaan (power)

Kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan ( compliance). Ketundukan tersebut timbul karena adanya interaksi antara konselor dan klien.

Kekuasaan tersebut dapat bersumber dari :

a.       Kekuasaan koersif yaitu kekuasaan komunikator mendatangkan atau memberikan ganjaran atau hukuman.

b.      Kekuasaan keahlian

c.       Kekuasaan informasional

d.      Kekuasaan rujukan

e.       Kekuasaan legal

C.    Karakteristik konselor secara khusus

Bagi konselor yang memberikan layanan konseling lintas budaya, kualifikasi tersebut terkait dengan beragamnya budaya klienyang dilayani,sehingga kualifikasi konselor sangat luas dan mungkin bebeda antara satu klien dengan klien lain.

1.      Kualitas personal/pribadi konselor

Association For Counseling Education and supervision tahun 1964 yang di kutip dasar kepribadian seorang konselor yaitu :

a.       Percaya pada setiap orang

b.      Menghayati nilai-nilai kemanusiaan setiap individua

c.       Peka terhadap dunia sekelilingnya

d.      Sikap keterbukaan

e.       Memahami diri sendiri

f.       Menghayati profesionalitas

 

2.      Kompetensi profesional konselor lintas budaya

Konselor yang memberikan pelayanan konseling lintas budaya, harus memiliki kopetensi profesional.

a.       Tujuan agar konselor sadar akan nilai-nilai budaya dan keyakinan

1)      Sikap-sikap dan keyakinan;

a)      Peka terhadap budaya yang di bawa dan sadar akan pengaruh terhadap pemikiran, perasaan dan perilakunya.

b)      Mengenal berbagai keterbatasan tentang kecakapan,kemampuan yang dimiliki dengan dirinya.

c)      Menyukai orang yang berbeda ras, etnis budaya dan keyakinan dengan dirinya.

2)      Memiliki pengetahuan yang mencakup

a)      Menyadari betapa besar pengaruh latar belakang konsep ukuran/kriteria”normalitas” setiap budaya dalam proses konseling.

b)      Memahami konsep-konsep tentang rasisme, didskriminasi, stereotype.

c)      Memahami bagaimana gaya yang dimiliki setiap klien dari berbagai latar belakang budaya.

3)      Setrategi intervensi

a)      Mencari pengalaman melalui pendidikan/ latihan untuk pendidikan lanjutan, mencari konsultasi dan refferal ketika di perlukan.

b)      Berusaha untuk dapat memahami diri sendiri sebagai ras/budaya dan secara aktif berusaha membangun masyarakat non rasial.

b.      Tujuan konselor menyadari akan pandangan hidup klien

1)      Sikap-sikap dan keyakinan

Menyadari akan reaksi emosional dan stereotype yang negatif dalam hubungan dengan kelompok lain.

2)      Pengetahuan

a)      Memiliki pengetahuan yang khusus tentang pandngan hidup

b)      Memahami betapa masalah-masalah budaya terkait dengan gaya personal seseorang

c)      Familier dengan pengaruh sosial politik

3)      Strategi intervensi

a)      Mengusai akan hasil riset dan temuan teori mutakhir tentang budaya kelompok yang berbeda dengan budaya sendiri.

b)      Mencari pengalaman pendidikan yang relevan

c)      Secara aktif terlibat dalam kgiatan kelompok minoritas, bersahabat, aktif secara sosial politik, berlatih membantu kelopok minoritas.

c.       Tujuan menguasai strategi yang tepat secara budaya

1)      Sikap-sikap dan keyakinan

a)      Respek terhadap agama

b)      Respek terhadap praktek bantuan pada penduduk asli, dengan jaringan kerja bantuan pada kelompok minoritas.

c)      Memandang mereka yang berbahasa lainb sabagai aset, bukan hambatan.

2)      Pengetahuan

a)      Memahami tradisi konseling masyarakat Eropa yang mengkin berbeda dengan nilai budaya  tradisi lain.

b)      Menyadari hambatan kelembagaan dan biasa dalam instrumensi/pengukuran dan tehnik  konseling.

c)      Menyadari pengaruh keluarga dan masyarakat dalamproses konselig.

d)     Memahami masalah-masalah rasisme,  penindasan dan sebagainya.

3)      Strategi intervensi

a)      Dapat menyampaikan pesan verbal dan non verbal akurat dan tepat.

b)      Dapat menentukan apakah problem klien sebagai hasil dari faktor luar, seperti rasisme dan bias-bias lainya.

c)      Menggunakan lembaga antuan untuk membantu klien.

d)     Dapat bekerja dengan pihak pembantu tradisional (dukun dll) dan para tokoh sepiritual.

e)      Merujuk pada sumber/ konselor yang lebih tepat jika konselor tidak bisa memahami bahasa klien dengan baik.

f)       Mengadakan pelatihan/pendidikan untuk memberantas penindasan.

g)      Mendidik klien untuk mengembangkan pribadi klien dan pendidik norma hukum yang berlaku.

3.      Ketrampilan khusus konselor

Beberapa jenis ketrampilan yang harus dimiliki konselor dalam konseling lintas budaya dan selalu diaktifkan dengan konteks budaya antara lain:

a.       Ketrampilan menyiapkan tata formasi atau menyiapkan konteks seperti menyiapkan tempat konseling,suasana ruangan,dekorasi dan sebagainya.

b.      Keterampilan memperhatikan (attending skills)

c.       Ketrampilan mengeksplorasikan masalah.

d.      Keterampilan dalam menngembangkan inisiatif ( merumuskan tujuan,mengembangkan program).

e.       Ketrampilan dalam mempengaruhi atau pemilihan strategi, seperti : ketrampilan menginterpretasi, ketrampilan memilih setrategi bantuan yang tepat, ketrampilan memberi pengaruh, ketrampilan memberkan dukungan (reassurance), ketrampilan memberikan advisi atau informasi, ketrampilan memberikan umpan balik, ketrampilan logical consequences, ketrampilan influencing summary dan sebagainya.

 

Berbagai keterampilan tersebut akan dikomunikasikan secara berbeda pada klien yang berbeda budayanya.

           

Diposkan oleh zumar di 00.37

http://berbagiilmuq.blogspot.com/2012/05/dasar-daras-konseling-lintas-budaya.html

http:/budifilo.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Organisasi, Menegement, Administrasi BK

  1. A.    Latar Belakang Organisasi, Menegement, Administrasi BK

Menurut Drs. H.M Arifin, M.Ed., bimbingan konseling agama adalah segala kegiatan yang dlakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya agar orang tersebut mampu mengatasinya sendiri karena timbul kesadaran dan penyeraha diri terhadap kekuasaaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga timbul pada diri pribadinya suatu cahaya harapan kebahagiaan hidup masa sekarang dan masa depannya.

Dan dalam menunjang kesuksesan konseling perlunya aspek organisasi, managemen dan administrasi yang dalam pengaplikasianya.

  1. Organisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna  kesatuan yg terdiri atas bagian-bagian dalam perkumpulan untuk tujuan tertentu.  James L. Gibson c.s menyatakan bahwa Organisasi-organisasi merupakan entitas-entitas yang memungkinkan masyarakat mencapai hasil-hasil tertentu, yang tidak mungkin di laksanakan oleh individu-individu yang bertindak secara sendiri. Pengorganisasian dalam Bimbingan dan konseling berarti suatu bentuk kegiatan yang mengatur kerja, prosedur kerja, dan pola kerja atau mekanisme kerja kegiatan bimbingan dan konseling. Maka oleh karena itu pihak manajemen perlu menetapkan tugas-tugas apa yang perlu di laksanakan, siapa yang harus melaksanakannya, dan siapa yang akan mengambil keputusan-keputusan tentang tugas itu.Dalam dunia nyata, banyak kondisi mempengaruhi bagaimana pengorganisasian itu dilaksanakan.
  2. Managemen, Sugiyo (36: 2011) menjelaskan bahwa manajemen bimbingan dan konseling merupakam salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh konselor. Hal tersebut dikarenakan dalam kegiatannya seorang konselor harus merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan bimbingan dan konseling. Melalui perencanaan yang baik akan memperoleh kejelasan arah pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling serta memudahkan untuk mengontrol kegiatan yang dilaksankan. Manajemen bimbingan dan konseling yang terarah dan sistematis merupakan manifestasi dan akumulasi pelayanan bimbingan dan konseling sehingga merupakan salah satu indikator kerja konselor. Selanjutnya dengan manajemen bimbingan dan konseling yang sistematis dan terarah yang baik pada gilirannya akan memberikan panduan pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling sekaligus menghilangkan kesan bahwa konselor bekerja sifatnya isedental dan bersifat kuratif semata – mata. Sehubungan dengan konsep manajemen maka penerapan atau implementasi manajemen bimbingan dan konseling merupakan salah satu manifestasi suatu kegiatan yang sistematis tentang bagaimana merencanakan suatu aktifitas bimbingan dan konseling, bagaimana menggerakkan sumber daya manusia yang ada dalam organisasi bimbingan dan konseling untuk mencapai tujuan, mengawasi bagaimana kegiatan bimbingan dan konseling berjalan dan menilai kegiatan bimbingan dan koseling.
  3. Pengertian administrasi menurut etimologi. Berasal dari kata latin ad dan ministrate yang berarti melayani atau membantu, dan memenuhi. Dari kata itu terbentuk kata benda administration dan kata sifat administrativus yang kemudian masuk kedalam bhassa inggris administration. Perkataan itu lalu diterjemahkakn kedalam bahsa Indonesia yaitu administrasi usaha dan kegiatan yg meliputi penetapan tujuan serta penetapan cara-cara penyelenggaraan pembinaan organisasi. Sedangkan administrasi dalam arti sempat diambil dari bahasa Belanda administratie yang berarti setiap penyusunan keterangan-keterangan secara sistematis dan pencatatannya secara tertulis dengan maksud untuk memperoleh suatu ikhtisar mngenai keterangan-ketrangan itu dalam keseluruhannya dan dalam hubungannya antara satu sama lain. Sedangkan dalam arti luas administrasi adalah keseluruhan proses kerja sama antara dua orang atu lebih yang didasarkan asas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dan dalam bimbingan konseling mempunyai administrasi yang biyasanya disusun oleh konselor untuk menyempurnakan tugasnya, diantaranya cover, kartu konseling, MGP BK, MGP kode etik konselor, MGP kelas X, MGP kelas XI, MGP kelas XII, Modul 1, Modul 2, Modul 3, Modul 4, ,Rencana Kegiatan Layanan, Silabus dan Penilaian, Silabus, Uraian Program, Satuan Layanan, Analisis Kebutuhan BKBelajar Lengkap, Karir  Lengkap, Pribadi Lengkap, Sosial Lengkap, Karier TP 789, Belajar TP 789, Pribadi TP 789, , Sosial TP 789, Bimbingan Belajar 456, Bimbingan Karir 456, Bimbingan Pribadi 456,. Bimbingan Sosial 456, Format Penyusunan Program, leaflet, Materi TP 1, Silabus KBK, Tugas kuesioner negatif.

 

  1. B.     Urgensi Organisasi, Menegement, Administrasi BK

Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan manajemen agar tercapai efisiensi dan efektivitas serta tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, setidaknya ada 3 alasan mengapa Organisasi, Menegement, Administrasi BK diperlukan termasuk dalam dunia pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu pertama, untuk mencapai fungsi bimbingan konseling. Kedua, untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan (apabila ada). Manajemen diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan apabila ada yang saling bertentangan dari pihak-pihak tertentu Ketiga, untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar atau merupakan perhitungan rasio antara keluaran (output) dengan masukan (input). Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 http//.www.budifilo.wordpress.com.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

ayat alquran yang menerangkan tentang alam “tafsir tematik konseling”

  1. Albaqorah ayat 29

uqèd “Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B ’Îû ÇÚö‘F{$# $YèŠÏJy_ §NèO #“uqtGó™$# ’n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y™ ;Nºuq»yJy™ 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ  

29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

 Ayat ini menegaskan peringatan Allah swt. yang tersebut pada ayat ayat yang lalu yaitu Allah telah menganugerahkan karunia yang besar kepada manusia, menciptakan langit dan bumi untuk manusia, untuk diambil manfaatnya, sehingga manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya dan agar manusia berbakti kepada Allah Penciptanya kepada keluarga dan masyarakat.  Perkataan “Dia berkehendak menciptakan langit” memberi pengertian bahwa Allah menciptakan langit setelah Dia menciptakan bumi. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

  • §NèO #“uqtGó™$# ’n<Î) Ïä!$uK¡¡9$# }‘Édur ×b%s{ߊ tA$s)sù $olm; ÇÚö‘F|Ï9ur $u‹ÏKø$# %·æöqsÛ ÷rr& $\döx. !$tGs9$s% $oY÷s?r& tûüÏèͬ!$sÛ ÇÊÊÈ  

Artinya:
…Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu (masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”. (Q.S Fussilat: 11)
Pada akhir ayat Allah menyebutkan “Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”, maksudnya ialah bahwa alam semesta ini diatur dengan hukum-hukum Allah, baik benda itu kecil, maupun besar, nampak atau tidak nampak, semuanya itu diatur, dikuasai dan diketahui oleh Allah.
Ayat ini mengisyaratkan keadaan manusia agar menuntut ilmu untuk memikirkan segala macam ciptaan Allah, sehingga dapat menambah iman dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah saja.

  1. Ibrahim 32-34
    1. Ibrahim 32

ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur tAt“Rr&ur šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr’sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%ø—Í‘ öNä3©9 ( t¤‚y™ur ãNä3s9 šù=àÿø9$# y“̍ôftGÏ9 ’Îû ̍óst7ø9$# ¾Ín̍øBr’Î/ ( t¤‚y™ur ãNä3s9 t»yg÷RF{$# ÇÌËÈ  

32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

Amatlah banyak nikmat yang telah dilimpahkan Allah SWT. kepada hamba-Nya. Di antara nikmat yang banyak itu ialah: 

Allah SWT. Yang Maha Agung yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang ada menerangkan bahwa yang telah menciptakan langit dan bumi yang kejadiannya jauh lebih besar dan lebih sulit dari kejadian manusia, yang selalu disaksikan dan diperhatikan manusia pada keduanya terdapat pelajaran dan manfaat. Langit berupa ruang angkasa yang tidak terhingga luas dan besarnya; di dalamnya terdapat benda-benda angkasa berupa planet-planet yang tidak terhitung jumlahnya; masing-masing berjalan menurut garis edar yang telah ditentukan, mengikuti hukum-hukum yang ditetapkan Allah SWT. Tidak ada satu pun dari planet-planet itu yang tidak mengikuti hukum itu karena tidak mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan itu berarti kehancuran bagi seluruh planet-planet itu. Jika direnungkan, diperhatikan dan dipelajari tata ruang angkasa yang rapi dan teratur itu akan terasalah ketidak adanya arti manusia dan semakin terasa pula keagungan dan kebesaran Penciptanya. 

Demikian pula Allah swt. yang menciptakan bumi yang merupakan salah satu dari planet-planet ruang angkasa tempat manusia hidup dan berdiam, tempat mempersiapkan diri sebelum mengalami hidup yang sebenarnya di akhirat nanti. Permukaan bumi ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dengan buahnya yang beraneka ragam pula yang berguna dan bermanfaat bagi manusia. Di dalam perut bumi terdapat barang tambang yang beraneka ragam. Semuanya itu diciptakan Allah swt. untuk manusia. 
Dialah yang menurunkan hujan yang berasal dari uap air dan menjadi awan. Awan itu dihalaunya dengan angin ke tempat tertentu hingga menjadi mendung yang hitam pekat kemudian berubah dan jatuh sebagai hujan menyirami permukaan bumi. Dengan siraman hujan itu tumbuh dan suburlah tumbuh-tumbuhan kemudian menjadi besar, berbunga dan berbuah sebagaimana firman Allah swt.:

وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ 
Artinya: 
Dan kamu lihat bumi ini kering kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.  (Q.S Al Hajj: 5) 

  1. Ibrahim 33

t¤‚y™ur ãNä3s9 }§ôJ¤±9$# tyJs)ø9$#ur Èû÷üt7ͬ!#yŠ ( t¤‚y™ur ãNä3s9 Ÿ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$#ur ÇÌÌÈ    

33. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Demikian pula sebagai nikmat Allah SWT. kepada manusia ialah Dia telah menaklukkan bagi manusia matahari dan bulan, yaitu menjadikan matahari dan bulan terus-menerus berjalan mengelilingi garis edarnya yang menimbulkan terang dan gelap yang berfaedah bagi hidup dan kehidupan makhluk. Dengan tetapnya matahari dan bulan, demikian juga planet-planet yang lain berjalan mengelilingi garis edarnya akan terhindarlah terjadinya benturan yang dahsyat antara planet-planet yang ada di cakrawala sebagaimana firman Allah SWT.: 

tyJs)ø9$#ur çm»tRö‘£‰s% tAΗ$oYtB 4Ó®Lym yŠ$tã Èbqã_óãèø9$%x. ÉOƒÏ‰s)ø9$# ÇÌÒÈ   Ÿw ߧôJ¤±9$# ÓÈöt7.^tƒ !$olm; br& x8͑ô‰è? tyJs)ø9$# Ÿwur ã@ø‹©9$# ß,Î/$y™ ͑$pk¨]9$# 4 @@ä.ur ’Îû ;7n=sù šcqßst7ó¡o„ ÇÍÉÈ    

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].

40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

 

[1267] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

 

Adanya garis edar yang terus-menerus dilalui oleh tiap-tiap planet itu, telah memberi jalan kepada manusia sampai ke bulan, memberi kemungkinan yang besar bagi manusia untuk berusaha mencapai planet-planet yang lain. Dengan perantara garis edar itu pula manusia dapat menempatkan satelit-satelit yang dapat digunakan untuk kepentingan umat manusia, seperti untuk mengetahui keadaan cuaca, untuk memperlancar hubungan dan telekomunikasi dan sebagainya sehingga hubungan antar negara yang semula dirasakan jauh, maka sekarang dirasakan bertambah dekat. Allah SWT. menundukkan pula bagi manusia siang dan malam. Siang dapat digunakan manusia sebagai tempat berusaha, beramal, bermasyarakat dan malam dapat dijadikan waktu untuk beristirahat dari kelelahan setelah berusaha di siang hari. Allah berfirman: 

`ÏBur ¾ÏmÏGyJôm§‘ Ÿ@yèy_ â/ä3s9 Ÿ@ø‹©9$# u‘$yg¨Y9$#ur (#qãZä3ó¡oKÏ9 ÏmŠÏù (#qäótGö;tGÏ9ur `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù ö/ä3¯=yès9ur tbrãä3ô±n@ ÇÐÌÈ  

73. dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

 

  1. Ibrahim 34

Nä39s?#uäur `ÏiB Èe@à2 $tB çnqßJçGø9r’y™ 4 bÎ)ur (#r‘‰ãès? |MyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) z`»|¡SM}$# ×Pqè=sàs9 ֑$¤ÿŸ2 ÇÌÍÈ  

34. dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Sebagai nikmat Allah juga ialah Dia telah menyediakan bagi manusia segala yang diperlukannya, baik dimintanya kepada Allah atau tidak dimintanya karena Allah telah menciptakan langit dan bumi ini untuk manusia. Dia menundukkan bagi manusia segala sesuatu yang ada sehingga dapat digunakan dan dimanfaatkan kapan ia kehendaki. Kadang-kadang manusia sendiri tidak mengetahui apa yang menjadi keperluan pokoknya, tanpa keperluan itu ia tidak akan hidup, atau dapat mencapai cita-citanya. Keperluan seperti itu tetap dianugerahkan Allah kepadanya sekali pun tanpa dimintanya. Ada pula bentuk keperluan manusia yang lain yang tidak mungkin didapat kecuali dengan berusaha dan berdoa, karena itu diperlukan usaha manusia untuk memperolehnya. 
Amatlah banyak nikmat Allah SWT. yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, jika ada yang ingin menghitungnya tentu tidak akan sanggup menghitungnya. Karena itu hendaknya setiap manusia mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT. dengan jalan menaati segala perintah-Nya dan tidak melakukan hal-hal yang menjadi larangan-Nya. Mensyukuri nikmat Allah yang wajib dilakukan oleh manusia itu bukanlah sesuatu yang diperlukan oleh Allah SWT. Allah Maha Kaya, tidak memerlukan sesuatu pun dari manusia, tetapi kebanyakan manusia sangat zalim dan mengingkari nikmat yang telah diberikan kepadanya.

 

  1. Al a’raf 54-58
    1. Al a’raf 54

žcÎ) ãNä3­/u‘ ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóムŸ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜtƒ $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàf‘Z9$#ur ¤Nºt¤‚|¡ãB ÿ¾Ín͐öDr’Î/ 3 Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u‘$t6s? ª!$# >u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ    

54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.

 

[548] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

 

Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa). Dialah Pemilik, Penguasa dan Pengaturnya, Dialah Tuhan yang berhak disembah dan kepada-Nyalah manusia harus meminta pertolongan. 
Walaupun yang disebutkan dalam ayat ini hanya langit dan bumi saja, tetapi yang dimaksud ialah semua yang ada di alam ini karena yang dimaksud dengan langit ialah semua alam yang di atas, dan yang dimaksud dengan bumi ialah semua alam yang di bawah, dan termasuk pula alam yang ada di antara langit dan bumi sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: 

“Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur $tBur $yJßguZ÷t/ ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& ¢OèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸöyèø9$# 4 ß`»yJôm§9$# ö@t«ó¡sù ¾ÏmÎ/ #ZŽÎ6yz ÇÎÒÈ   Artinya: 

59. yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy[1071], (Dialah) yang Maha pemurah, Maka Tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.

 

[1071] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

 

Adapun yang dimaksud dengan enam hari ialah enam masa yang telah ditentukan Allah, bukan enam hari yang kita kenal ini yaitu hari sesudah terciptanya langit dan bumi sedang hari dalam ayat ini adalah sebelum itu. Adapun mengenai lamanya sehari itu hanya Allah yang mengetahui, sebab dalam Alquran sendiri ada yang diterangkan seribu tahun dalam firman-Nya yang disebutkan: 

  1. Al a’raf 55

(#qãã÷Š$# öNä3­/u‘ %Y敎|Øn@ ºpuŠøÿäzur 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä† šúïωtF÷èßJø9$# ÇÎÎÈ    

55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549].

 

[549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.

 
Ayat ini mengandung adab-adab dalam berdoa kepada Allah. Berdoa adalah suatu munajat antara seorang hamba dengan Tuhannya untuk menyampaikan suatu permintaan agar Allah dapat mengabulkannya. Maka berdoa kepada Allah hendaklah dengan sepenuh kerendahan hati, dengan betul-betul khusyuk dan berserah diri. Kemudian berdoa itu disampaikan dengan suara lunak dan lembut yang keluar dari hati sanubari yang bersih. Berdoa dengan suara yang keras menghilangkan kekhusyukan dan mungkin menjurus kepada ria dan pengaruh-pengaruh lainnya dan dapat mengakibatkan doa itu tidak dikabulkan Allah. Tidak perlulah doa itu dengan suara yang keras, sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. 
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asyari r.a. dia berkata: Ketika kami bersama-sama Rasulullah saw. dalam perjalanan, terdengarlah orang-orang membaca takbir dengan suara yang keras. Maka Rasulullah bersabda: 

إربعون على أنفسكم فإنكم لا تدعون اصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم 
Artinya: 
Sayangilah dirimu jangan bersuara keras karena kamu tidak menyeru kepada yang pekak dan yang jauh. Sesungguhnya kamu menyeru Allah Yang Maha Mendengar lagi Dekat dan Dia selalu beserta kamu.  (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al ‘Asy’ari) 
Bersuara keras dalam berdoa bisa mengganggu orang, lebih-lebih orang yang sedang beribadat, baik dalam masjid atau di tempat-tempat ibadat yang lain, kecuali yang dibolehkan dengan suara keras, seperti talbiyah dalam musim haji dan membaca takbir pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Allah swt. memuji Nabi Zakaria a.s. yang berdoa dengan suara lembut. 

  1. Al a’raaf 56

Ÿwur (#r߉šøÿè? †Îû ÇÚö‘F{$# y‰÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu‘ «!$# Ò=ƒÌs% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÎÏÈ  

56. dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

 
Dalam ayat ini Allah swt. melarang jangan membuat kerusakan di permukaan bumi. Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, merusak pergaulan, merusak jasmani dan rohani orang lain, merusak penghidupan dan sumber-sumber penghidupan, (seperti bertani, berdagang, membuka perusahaan dan lain-lainnya). Padahal bumi tempat hidup ini sudah dijadikan Allah cukup baik. Mempunyai gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain yang semuanya itu dijadikan Allah untuk manusia agar dapat diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai dirusak dan dibinasakan. Selain dari itu untuk manusia-manusia yang mendiami bumi Allah ini, sengaja Allah menurunkan agama dan diutusnya para nabi dan rasul-rasul supaya mereka mendapat petunjuk dan pedoman dalam hidupnya, agar tercipta hidup yang aman dan damai. Dan terakhir diutus-Nya Nabi Muhammad saw. sebagai rasul yang membawa ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Bila manusia-manusia sudah baik, maka seluruhnya akan menjadi baik, agama akan baik, negara akan baik, dan bangsa akan baik. Sesudah Allah melarang membuat kerusakan, maka di akhir ayat ini diulang lagi tentang adab berdoa. Dalam berdoa kepada Allah baik untuk duniawi maupun ukhrawi selain dengan sepenuh hati, khusyuk diri dan dengan suara yang lembut, hendaklah juga disertai dengan perasaan takut dan penuh harapan. Takut kalau-kalau doanya tidak diterima-Nya dan mendapat ampunan dan pahala-Nya. Berdoa kepada Allah dengan cara yang tersebut dalam ayat ini akan mempertebal keyakinan dan akan menjauhkan diri dari keputus-asaan. Sebab langsung meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya, lambat laun apa yang diminta itu tentu akan dikabulkan-Nya. Rahmat Allah dekat sekali kepada orang-orang yang berbuat baik. Berdoa termasuk berbuat baik, maka rahmat Allah tentu dekat kepadanya. Setiap orang yang suka berbuat baik, berarti orang itu sudah dekat kepada rahmat Allah. Anjuran berbuat baik banyak sekali ditemui dalam Alquran. Berbuat baik kepada tetangga dan kepada sesama manusia pada umumnya. Berbuat baik juga dituntut kepada selain manusia, seperti kepada binatang dan lain-lainnya. Sehingga kalau akan menyembelih binatang dianjurkan sebaik-baiknya, yaitu dengan pisau yang tajam tidak menyebabkan penderitaan bagi binatang itu.

 

  1. Al a’raaf 57

uqèdur ”Ï%©!$# ã@řöãƒ yx»tƒÌh9$# #MŽô³ç0 šú÷üt/ ô“y‰tƒ ¾ÏmÏGuH÷qu‘ ( #Ó¨Lym !#sŒÎ) ôM¯=s%r& $\/$ysy™ Zw$s)ÏO çm»oYø)ߙ 7$s#t6Ï9 ;MÍh‹¨B $uZø9t“Rr’sù ÏmÎ/ uä!$yJø9$# $oYô_t÷zr’sù ¾ÏmÎ/ `ÏB Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# 4 šÏ9ºx‹x. ßl̍øƒéU 4’tAöqyJø9$# öNä3ª=yès9 šcr㍞2x‹s? ÇÎÐÈ   à$s#t7ø9$#ur Ü=Íh‹©Ü9$# ßlãøƒs† ¼çmè?$t6tR ÈbøŒÎ*Î/ ¾ÏmÎn/u‘ ( “Ï%©!$#ur y]ç7yz Ÿw ßlãøƒs† žwÎ) #Y‰Å3tR 4 y7Ï9ºx‹Ÿ2 ß$ÎhŽ|ÇçR ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbráä3ô±o„ ÇÎÑÈ  

57. dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

58. dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

 

Dengan kedua ayat ini Allah menegaskan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya ialah menggerakkan angin sebagai tanda bagi kedatangan nikmat-Nya yaitu angin yang membawa awan tebal yang dihalaunya ke negeri yang kering yang telah rusak tanamannya karena ketiadaan air, kering sumurnya karena tak ada hujan dan penduduknya menderita karena haus dan lapar. Lalu Dia menurunkan di negeri itu hujan yang lebat sehingga negeri yang hampir mati itu menjadi subur kembali dan sumur-sumurnya penuh berisi air dengan demikian hiduplah penduduknya dengan serba kecukupan dari hasil tanaman-tanaman itu yang berlimpah-ruah. 
Memang tidak semua negeri yang mendapat limpahan rahmat itu, tetapi ada pula beberapa tempat di muka bumi yang tidak dicurahi hujan yang banyak, bahkan ada pula beberapa daerah dicurahi hujan tetapi tanah di daerah itu hilang sia-sia tidak ada manfaatnya sedikit pun. Mengenai tanah-tanah yang tidak dicurahi hujan itu Allah berfirman: 
óOs9r& ts? ¨br& ©!$# ÓÅe÷“ム$\/$ptxž §NèO ß#Ïj9xsム¼çmuZ÷t/ §NèO ¼ã&é#yèøgs† $YB%x.①“uŽtIsù šXôŠtqø9$# ßlãøƒs† ô`ÏB ¾Ï&Î#»n=Åz ãAÍi”t\ãƒur z`ÏB Ïä!$uK¡¡9$# `ÏB 5A$t7Å_ $pkŽÏù .`ÏB 7Štt/ Ü=ŠÅÁãŠsù ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o„ ¼çmèùΎóÇtƒur `tã `¨B âä!$t±o„ ( ߊ%s3tƒ $uZy™ ¾ÏmÏ%öt/ Ü=ydõ‹tƒ ̍»|Áö/F{$$Î/ ÇÍÌÈ  

43. tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

 

Jelaslah bahwa hujan lebat yang disertai hujan es itu tidak mencurahi semua pelosok di muka bumi, hanya Allahlah yang menentukan di mana hujan akan turun dan di mana pula awan tebal itu sekedar lewat saja sehingga daerah itu tetap tandus dan kering. Mengenai tanah yang baik dan tanah yang tidak baik yang tidak menghasilkan meskipun dicurahi hujan dijelaskan oleh Allah pada ayat 58 berikut ini.  Jadi tanah-tanah di muka bumi ini ada yang baik dan subur bila dicurahi hujan sedikit saja dapat menumbuhkan berbagai macam tanaman dan menghasilkan makanan yang berlimpah ruah dan ada pula yang tidak baik, meskipun telah dicurahi hujan yang lebat, namun tumbuh-tumbuhannya tetap hidup merana dan tidak dapat menghasilkan apa-apa. Kemudian Allah memberikan perumpamaan dengan hidupnya kembali tanah-tanah yang mati, untuk menetapkan kebenaran terjadinya Yaumul Mahsyar, yaitu di mana orang-orang mati dihidupkan kembali dan dikumpulkan di padang mahsyar untuk menerima ganjaran bagi segala perbuatannya, yang baik dibalasi berlipat ganda dan yang buruk dibalasi dengan yang setimpal. 

Kalau tanah kering dan mati dapat dihidupkan Allah kembali dengan menurunkan hujan padanya sedang tanah itu lekang tidak ada lagi unsur kehidupan padanya, tentulah Allah dapat pula menghidupkan orang-orang yang telah mati meskipun yang tinggal hanya tulang-belulang atau pun telah menjadi tanah semuanya

  1. Ar rrum 41

tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. “ω÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉ‹ã‹Ï9 uÙ÷èt/ “Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ  

41. telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Pkok bahasan

( akibat yang burukdan yang baik dari perbuatan manusia)

Tafsir mufrodat Ar ruum

(telah tampak kerusakan didarat) disebabkan terhentinya hujan dan menipisnya tumbuh tumbuhan (dan dilaut) maksudnya di negri negri yang banyak sungai sungai menjadi kering (disebkan karena tangan manusia) berupa perbuatan perbuatan maksiat ( supaya allah merasakan kepada mereka) dapat dibaca Liyuziqokum dan Linuziqokum kalu di baca linuziqokum artinya supaya kami merasakan kepada mereka (sebagian dari akibat perbuatan mereka) sebagai hukuimanya (agar mereka kembali) supaya mereka bertobat dari perbuatan maksiat.

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=14#32

 http://budifilo.wordpresss.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Teori konseling psikoanalisa

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Teori konseling psikoanalisa dikembangkan oleh seorang neurology dari Wina, Sigmund Freud, pada awal tahun 1890-an. Formulasi teoritik dari teori ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman atau kehidupan masa kanak-kanak Freud, khususnya cara kedua orangtuanya memperlakukannya. Teorinya tentang kompleks oodipus misalnya, dipengaruhi oleh ketertarikannya bahkan mungkin minat seksualnya terhadap ibunya yang dinilainya sebagai seorang wanita yang rupawan dan lemah lembut, dan perasaan benci terhadap ayahnya yang sanagat keras dalam mendidiknya.

Freud mula-mula seorang dokter (neurolog) yang kemudian tertarik untuk belajar psikiatri dan gangguan psikologis. Dari hasil kolaborasi dengan gurunya, Josef Bruer, dan koleganya, Jean Charcot, Freud belajar dan mengembangkan teknik hipnotis dan ekspresi verbal untuk menangani gangguan emosi (neurotis), meskipun kemudian ia menyadari bahwa teknik tersebut ternyata kurang  efektif dan kemudian mengembangkan teknik yang lain, yakni asosiasi bebas.

Melalui karya-karyanya pada tahun 1890-an Freud mulai menekankan pentingnya pengalaman seksualitas pada masa anak sebagai faktor yang mempenagaruhi histeria dan neurosis. Istilah psikoanalisa mulai diperkenalkan oleh Freud pada tahun 1896 dari hasil  kerjanya sejak tahun 1895 hingga 1899 dalam menganalisis impian dan fantasinya sendiri, Freud memperkenalkan suatu metode yang ia sebut analisis mimpi. Hasil karya yang paling terkenal dari Freud adalah konstruknya tentang tiga struktur kepribadian, yakni id, ego, dan superego.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa hakikat manusia menurut teori Sigmund Frued?
    2. Bagaimana perkembangan prilaku manusia menurut teori Sigmund Frued?
    3. Apa hakikat konseling menurut teori Sigmund Frued?
    4. Bagaimana kondisi pengubahan menurut teori Sigmund Frued?
    5. Bagaimana mekanisme pengubahan menurut teori Sigmund Frued?
    6. Apakah hasil penelitian Sigmund Frued?
    7. Apakah kelemahan dan kelebiha teori Sigmund Frued?
    8. C.    Tujuan
      1. Mengetahui hakikat manusia menurut teori Sigmund Frued
      2. Mengetahui perkembangan prilaku manusia menurut teori Sigmund Frued
      3. Mengetahui hakekat konseling menurut teori Sigmund Frued
      4. Mengetahui kondisi pengubahan menurut teori Sigmund Frued
      5. Mengtehaui mekanisme pengubahan menurut teori Sigmund Frued
      6. Mengetahui hasil penelitian menurut teori Sigmund Frued
      7. Mengetahui kelemahan dan kelebihan menurut teori Sigmund Frued

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Hakikat Manusia

Hakikat Manusia menurut Sigmund Freud adalah :

1        Manusia pada dasarnya Deterministik.yaitu tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan irrasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah serta peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.

2        Manusia berisi sistem energi energi Psikis dasar manusia disebut libido. Konsep tentang energy libido dalam arti luas yaitu mencakup segala kenikmatan. Energi instingtif ini “mengarahkan” individu bertahan hidup dan memelihara kelangsungan keturunan. Energi-energi ini memelihara individu untuk tetap tumbuh,berkembang, kreatif. Manusia memiliki naluri-naluri kehidupan dinamakan Eros dan naluri- naluri kematian disebut Thonatos. Contoh ketika remaja mengalami frustasi karena tidak lulus ujian maupun putus cinta ia mengutuk diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Perkembangan perilaku manusia

  1. 1.      Struktur kepribadian

Struktur kepribadian menurut Freud terdiri atas 3 aspek yaitu id,ego, dan superego.

  1. Id (struktur kepribadian primitif) adalah sistem kepribadian yangdimiliki individu sejak lahir dan berisikan potensi bawaan.Tempatnya ada pada alam bawah sadar dan secara langsung berpengaruh terhadap perilaku seseorang tanpa disadari, digerakkan oleh libido, yaitu energi psikis untuk dapat beradaptasi secara fisiologis dan sosial untuk mempertahankan dan mengembangkan spesiesnya. Di dalam id terdapat dorongan naluriah (instingtif) dimana prinsip kerjanya selalu mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit atau ketidak nyamanan. Id menggunakan dua mekanisme: tindakan refleks dan proses primer. Menurut Freud terdapat dua insting dasar dalam Id, yaitu  Eros (naluri hidup) dan Thanatos (naluri mati). Eros merupakan instinguntuk bertahan hidup, dengan libido sebagai dorongan utama. Sedangkan Thanatos merupakan insting yang mendorong individu untuk berperilaku agresif dan destruktif. Cara- cara Id untuk mendapatkan kenikmatan atau menghindarkan ketidakenakan adalah:

1        Melalui reflek-reflek atau reaksi-reaksi otomatis seperti meggeliatkan tubuh, mengedipkan mata, bersin dsb

2         Melalui proses primer yaitu Id “ Membayangkan” ada makanana yang lezat ketika sedang lapar.

  1. Ego memiliki hubungan dengan dunia realita. Ego berkaitan erat dengan prinsip peredaan tegangan dan juga prinsip realita. Tugas utama ego adalah mengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar, ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dan berfikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan. Dengan kata lain ego berfungsi membantu id  memenuhi dan menolak dorongan-dorongannya secara nyata. Ego juga dapat dikatakan sebagai aspek eksekutif dari struktur kepribadian.
  2. Superego  adalah kode moral individu yang berkaitan dengan tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego berfungsi membatasi dorongan-dorongan atau Id dan mengendalikan ego agar tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan moral atau norma masyarakat. Fungsi Super Ego dalam hubungannya dengan fungsi Id dan Ego yaitu merintangi dorongan-dorongan Id, terutama dorongan-dorongan seksual dan agresif yang perwujudannya amat ditentang oleh masyarakat.
    1. 2.      Pribadi sehat dan bermasalah

Kepribadian individu, menurut sigmund Freud, mulai terbentuknya pada beberapa tahun petama khidupannya. Pada usia 5 tahun, hampir seluruh struktur keprbadian individu telah terbentuk, perkembangan berikutnya adalah penghalusan struktur dasar itu. S frued memandang masa kanak-kanak adalah cikal bakal manusia, dan gangguan psikis pada orang-orang dewasa, pada umumnya bercikal bakal pada dari pengalaman masa kanak-kanak.

Secara struktural, pribadi manusia berkembang normal apabila ego dapat mencari jalan yang rasional dan realistis atas konflik antara id dan superego. Secara topografis, orang dapat berkembang normal apabila dapat menyadari ketidak sadarannya. Kedua hal tersebut terjadi pada fase-fase perkembangan psikoseksual.

Periode Perkembangan Psikoseksual

Freud berpendapat bahwa tahapan perkembangan individu yangterpenting terjadi pada 5 tahun pertama kehidupannya, dan periodeperkembangan psikoseksual pada masa ini merupakan landasan bagiperkembangan kepribadian individu selanjutnya: Adapun penjelasanmasing-masing fase adalah sebagai berikut :

  1. Fase Oral (0 – 1 tahun)

 Mulai usia 1 tahun seorang bayi menjalani fase oral, padamasa ini mulut dan bibir merupakan zona yang peka. Kebutuhanakan makanan dan kesenangan dipuaskan dengan aktivitasmenyusu pada ibunya. Benda-benda yang dicari anak dapatmenjadi pengganti bagi apa-apa yang sesungguhnyadiinginkannya, yakni makanan dan cinta dari ibunya. Tugasperkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya,baik kepada diri sendiri, dan orang lain. Cinta adalah perlindunganterbaik terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yangdicintai tidak akan banyak menemui kesulitan dalam menerimadirinya, sebaliknya anak-anak yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima, dan tidak dicintai cenderung mengalami kesulitan dalammenerima dirinya sendiri, dan belajar untuk tidak mempercayaiorang lain, serta memandang dunia sebagai tempat yangmengancam. Efek penolakan pada fase oral akan membentuk anak menjadi pribadi yang penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri,agresif, benci, dan kesepian.

  1. Fase Anal (1– 3 tahun)

Bermula dari tahun kedua berlanjut hingga tahun ketiga, faseanal memiliki arti penting bagi pembentukan kepribadian. Tugasperkembangan pada fase ini adalah anak harus belajar mandiri, danbelajar mengakui dan menangani perasaan-perasaan negatif. Padafase anal anak banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutanorangtua, terutama yang berhubungan dengan toilet training,dimana anak memperoleh pengalaman pertama dalam halkedisiplinan. Banyak sikap terhadap fungsi tubuh sendiri yangdipelajari anak dari orangtuanya. Selama fase anal anak akanmengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasratmerusak, marah, dan sebagainya, namun mereka harus belajarbahwa perasaan-perasaan tersebut bisa diterima. Hal penting lainyang harus dipelajari anak adalah bahwa mereka memilikikekuatan, kemandirian, dan otonomi.

  1. Fase Phalic (3 – 5 tahun)

 Dengan meningkatnya perkembangan kemampuan motorik dan perseptual dari masa sebelumnya pada anak usia tiga tahunkeatas, maka kecakapan-kecakapan interpersonal merupakan fasekemajuan (fase falik) yang terjadi pada anak. Pada fase ini aktivitasseksual anak menjadi lebih intens dan lebih berpusat pada fungsialat kelaminnya, anak-anak menjadi lebih berhasrat untuk melakukan eksplorasi terhadap tubuhnya, dan menemukanperbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin. Fase Phalic juga merupakan periode perkembangan hati nurani, dimana anak belajar mengenai standar-standar moral. Mereka membutuhkancontoh yang memadai bagi identifikasi peran seksual, untuk mengetahui apa yang benar dan salah, serta apa yang maskulin danfeminin, sehingga mereka memperoleh perspektif yang benartentang peran mereka sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.

Selama fase ini pula anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajarmemandang tubuhnya sendiri secara sehat. Masa falik laki-lakiakan ditandai dengan perhatiannya pada ibunya dan penentenganpada ayah dan akan berkembangan perasaan takut bahwa ayahnyaakan menghukumnya kalau tahu bahwa ia menyenangi ibu.Perasaan ini disebut odipus complex yaitu dorongan seksual tidak sadar dari anak laki-laki terhadap ibunya yang disertai keinginanuntuk menggantikan dan menyingkirkan ayahnya. Begitu juga padaanak perempuan pada masa ini anak perempuan akan mengalamikompleks elektra.

  1. Fase Laten (6 – 12 tahun)

Pada fase Laten ketertarikan pada masalah seksual Sudah berkurang, libido ditekan dan anak mulai mengalihkan energinya ke kegiatan sekolah, bersosialisai dengan teman, olah raga, danhobi. Namun berkurangnya perhatian pada masalah seksual itubersifat laten dan masih akan terus memberikan pengaruh pada tahap perkembangan kepribadian berikutnya.

  1. Fase Genital (12 tahun ke atas)

 Fase genital dimulai pada usia 12 tahun, yaitu pada masaremaja awal dan berlanjut terus sepanjang hidup. Pada fase inienergi seksual anak mulai terarah kepada lawan jenis bukan lagi pada kepuasan diri melalui masturbasi, dan anak mulai mengenalcinta kepada lawan jenis. Selain itu kepribadian yang sehatmenurut Freud adalah jika individu bergerak menurut polaperkembangan yang ilmiah, mampu belajar dalam mengatasitekanan dan kecemasan, memiliki kesehatan mental yang baik yaitu hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap iddan ego. Sedangkan pribadi yang bermasalah adalah jika terdapatdinamika yang tidak efektif antara Id, Ego dan Superego,dimungkinkan Ego selalu mengikuti dorongan-dorongannya danmengabaikan tuntutan moral atau Ego selalu mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan jugaproses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak.

Perkembangan Perilaku Bermasalah/Menyimpang

Menurut teori ini pribadi menyimpang berasal /bermasalahbermasalah adalah jika terdapat dinamika yang tidak efektif antaraId, Ego dan Superego, dimungkinkan Ego selalu mengikutidorongan-dorongannya dan mengabaikan tuntutan moral atau Egoselalu mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginanatau kebutuhan dan juga proses belajar yang tidak benar pada masakanak-kanak.

Hakikat Konseling

Freud dalam pendapatnya menyatakan bahwa konseling merupakan proses membantu individu untuk menyadari ketidaksadarannya, dengan kata lain agar individu mengetahui ego dan memiliki ego yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampumemilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan Superego.Seperti diketahui secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan psikonanalisa hakikat konseling adalah sebagai proses re-edukasi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional. Freud menganggap bahwa seseorang yang telah dapat menyadari dengan sendirinya akan dapat mengembangkan tingkah laku yang sesuai yakni tingkah laku yang sesuai dan dapat diterima secara sosial. Dalam proses konseling belajar yakni mengenali bahwa dalam dirinya ada resistensi emosional yang kuat. Proses konseling mementingkan faktor afektif serta penekanannya terletak pada faktor interpersonal.

Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam proseskonseling, yaitu:

  1. Kontrak dan mengatur teknik. Didalam kontrak dan mengatur teknik ini lebih mengarah bagaiamanseorang konselor mampu membuat kesepakatan-kesepakatan dengan klien, baik dari sisi batasan waktu untuk memulai dan mengakhiri, cara menghadapai klien serta bagaimana konselor mampu membuat kondisi klien nyaman namun tidak menyebabkan kecanduan (addict).
  2. Fase pembukaan analitik Dalam fase ini merupakan fase dimana seorang konselor dituntutuntuk mampu mengungkapkan permasalahnnya, sehingga dalam analisisnya konselor mampu membedakan klien yang menunjukkan gejala histeria atau obsesi klien yang mengalami kelainan tingkah laku. Selain daripada itu didalam konseling juga terdapat teknik-teknik untuk intervensi konseling. 

Kondisi Pengubahan

  1. 1.      Tujuan

Tujuan Secara umum konseling psikoanalisa adalah untuk membantu konseli agar mampu mengoptimalkan fungsi ego sehingga kecemasan atau konflik-konflik intrapsikis mampu ditangani secara realistis dan tidak banyak pada tuntutan nafsu. Menurut Corey (2010:38),tujuan terapi psikoanalisa adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu, dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa,dan menafsirkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak-kanak. Baker dalam (Darmanto:2007) mengemukakan secara khusus tujuan konseling psikoanalisa adalah

  1. Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls danberbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional.
  2. Memahami sifat dan macam-macam mekanisme pertahanan egosehingga lebih efektif, lebih matang, dan lebih dapat diterima.
  3. Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yangakrab dan sehat dengan cara yang menghargai hak-hak pribadi danorang lain.
    1. 2.      Peran Konselor

Peran konselor dalam psikoanalisa adalah :

  1. Membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, danhubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
  2. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan konseli dankemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan danmenafsirkan.
  3. Konselor juga memberikan perhatian kepada resistensi/penyangkalan konseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. Sementara konseli berbicara, konselor berperan mendengarkan dengan penuh perhatian, menganalisis dan menginterpretasikan ungkapan-ungkapan konseli, kemudian memberikan tafsiran-tafsiran terhadap informasi konseli, selain itu konselor juga harus peka terhadap isyarat-isyarat non verbal darikonseli.
  4. Konselor memberikan penjelasan tentang makna proses kepada konseli sehingga konseli mencapai pemahaman terhadap masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara berubah,sehingga konseli mampu mendaptakan kendali yang lebih rasional atashi dupnya sendiri.
    1. 3.      Peran Konseli

Konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Saat proses konseling,konseli bersedia mengemukakan perasaannya, pengalamannya, hubungan-hubungannya, ingatannya dan fantasinya. Produksi verbal konseli merupakan esensi dari kegiatan konseling psikoanalisa. Pada kasus-kasus tertentu konseli diminta secara khusus untuk tidak mengubah gaya hidupnya selama proses konseling. Dalam pelaksanaan konseling psikoanalisis, konseli menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru.

  1. 4.      Situasi Hubungan

Dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu transferensi dan kontratransferensi.

  1. a.      Transferensi

 Transferensi yaitu suatu keadaan yang menggambarkan konseli memproyeksikan karakteristik orang lain (orang tua atau orang lainyang menjadi tokoh identifikasi konseli atau dengan siapa konseli yangpunya masalah) ke dalam diri konselor. Tranferensi merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis membantu konseli untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.

  1. b.       Kontratransferensi

 Yaitu kondisi dimana konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri. Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau keterlibatan yang berlebihan, kondisi ini dapat menghambat kemajuan proses konseling karena konselor akan lebih terfokus pada masalahnya sendiri. Konselor harus menyadariperasaaannya terhadap klien dan mencegah pengaruhnya yang bisamerusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalammenerima kemarahan, cinta, bujukan, kritik, dan emosi-emosi kuatlainnya dari konseli

Tahap – Tahap Konseling

· Persiapan dalam bentuk analisis individu

· Pembentukan rapport melalui mimpifantasi

· Analisis resistensi

· Analisis tranferensi

· Pendalaman

· Reorientasi dan integrasi sosial

Teknik-teknik Konseling :

  1.  Asosiasi bebas adalah teknik dimana konselor meminta konseli untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman masa lalunya. Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas konselor adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung didalam ketidaksadaran.
  2. Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas yang prosedurnya terdiri atas tidakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan bahkan mengajari konseli makna tingkah laku. Penafsiran yang diberikan oleh konselor harus sesuai dengan situasi dan kondisi secara tepat, bila tidak tepat saat situasi dan kondisi yang ada, penafsiran tidak akan berjalan.
  3. Analisis Mimpi adalah penyingkapan bahan yang tak disadari dan membarikan pemahaman atas beberapa masalah yang tak terselesaikan.freud memendang bahwa mimpi-mimpi adalah jalan istimewa menuju ketidaksadaran sebab melalui mimpi hasrat-hasrat,kebutuhan –kebutuhan ,dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari diungkapkan.
  4. Analisis dan Penafsiran resistensi yaitu sebagai pertahanan kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalistik dengan menghambat konseli dan analisis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran konseli.
  5. Analisi dan penafsiran Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analaisis transferensi adalah teknik utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong konseli untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. 

Hasil Penelitian Sigmund Frued

Berdasarkan beberapa penelitian ia menyimpulkan bahwa dalm diri manusia kepribadian terdiri atas 3 komponen utama yaitu Das es, das ich, das Uber Ich istilah lainnya id, ego, super ego. Untuk memudahkan pemahaman, id artinya nafsu atau dorongan-dorongan kenikmatan yang harus dipuaskan, bersifat alamiah pada manusia. Ego sebagai kemampuan otak atau akal yang membimbing manusia untuk mencari jalan keluar terhadap masalah melalui penalarannya. Super Ego sebagai norma, aturan, agama, norma social.

Kelemahan dan kelebihan teori Sigmund Frued

Keterbatasan dari pendekatan ini adalah:

  1. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahka martabat kemanusiaan.
  2. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak danmenganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Halini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individuberkurang.
  3. Cenderung meminimalkan rasionalitas.
  4. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dankonsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yangmenentukan tingkah laku manusia.

Kelebihan dari pendekatan ini adalah:

  1. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapatmemahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia.
  2. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atasmimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
  3. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangkakonseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahamisumber-sumber dan fungsi simptomatologi.

 

BAB III

PENUTUP

  1. 1.      KESIMPULAN

Jadi hakikat manusia menurut Sigmun Freud adalah : Manusia pada dasarnya Deterministik. Manusia berisi sistem energi energi Psikis dasar manusia disebut libido. Struktur kepribadian adalah ID, Ego, Super Ego. Periode Perkembangan Psikoseksual Fase Oral (0 – 1 tahun) Fase Anal (1– 3 tahun) Fase Phalic (3 – 5 tahun) Fase Laten (6 – 12 tahun) Fase Genital (12 tahun ke atas) teknik dasar dalamkonseling psikoanalisis (Corey, 2010:42), yaitu Asosiasi bebas, Interpretasi (Penafsiran), Analisis mimpi, Analisis resistensi, Analisis transferensi. Tujuan Secara umum konseling psikoanalisa adalah untuk membantu konseli agar mampu mengoptimalkan fungsi ego sehinggakecemasan atau konflik-konflik intrapsikis mampu ditangani secararealistis dan tidak banyak pada tuntutan nafsu. Peran konselor dalam psikoanalisa adalah membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri konselor membangun hubungan kerja sama dengan konseli dankemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan danmenafsirkan, konselor juga memberikan perhatian kepada resistensi/penyangkalankonseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpandalam ketidaksadara, konselor memberikan penjelasan tentang makna proses kepadakonseli sehingga konseli mencapai pemahaman terhadap masalahnyasendiri Peran konseli adalah konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Situasi Hubungan ada 2 yaitu Transferensi dan  Kontratransferensi. Tahap – Tahap Konseling diantaranya persiapan dalam bentuk analisis individu, pembentukan rapport melalui mimpifantasi, analisis resistensi, analisis tranferensi, pendalaman reorientasi dan integrasi sosial. Teknik-teknik Konseling asosiasi bebas penafsiran, analisis mimpi, analisis dan penafsiran resistensi, analisi dan penafsiran transferensi. Hasil Penelitian Sigmund Frued ialah id, ego, super ego. Kelemahan dan kelebihan teori Sigmund Frued Kelemahan dan kelebihan teori Sigmund Frued Keterbatasan dari pendekatan ini adalah Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahka martabat kemanusiaan. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak danmenganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Halini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individuberkurang. Cenderung meminimalkan rasionalitas. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dankonsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yangmenentukan tingkah laku manusia. Kelebihan dari pendekatan ini adalah: Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapatmemahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atasmimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangkakonseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahamisumber-sumber dan fungsi simptomatologi.

  1. 2.      Saran

Mungkin jika di teliti lebih dari sudut pandang yang berbeda akan muncul kesimpulan lain dan lebih baik. Namun untuk saat ini kami susdah merasa cukup. Dan apabila muncul pemikiran pemikiran yang lebih baik dalam pembahsan ini kami akan lakukan perubahan yang lebih baik pada pembahsan nanti.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://budifilo.wordpress.com teori dan terapi psikoanalilisaGambar

;http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/bimbingan-konseling-islam.html di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

http://ulankeyla.blogspot.com/2011/07/teori-konseling-psikoanalisis-by.html di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

http://ml.scribd.com/doc/91907837/PENDEKATAN-PSIKOANALISIS di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

http://vievie-28.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=87:pendekatan-konseling-psikoanalisis&catid=1:latest-news&Itemid=75 di akses terakhir pada 04 Oktober 2012

 

Posted in Uncategorized | 2 Comments